WARNING: Jangan Pernah Sekalipun Membuat E-paspor di Imigrasi Jakarta Timur, atau Anda akan kena Darah Tinggi!

Fiuuuhhh.. nafas panjang gw untuk mulai menulis ini, benar2 sangat menyebalkan mengingat kejadian yang tidak menyenangkan itu. Tapi gada salahnya bukan untuk berbagi, supaya khalayak tahu yang sebenarnya tentang pengurusan e-paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Di saat e-paspor sudah mulai digalakkan dan disertai embel2 mudah membuatnya karena bisa via online, gw pun ikut termakan iklan dan ingin segera mengganti paspor lama gw yang memang sudah mau habis masa berlakunya 2015 ini. Seorang teman yang juga ingin membuat paspor, turut memicu gw untuk segera mengurus e-paspor ini. Tapi ya ternyata proses pembuatan e-paspor di Imigrasi Jaktim itu pahit buat gw, walaupun akhirnya manis.

Begini kronologinya:

3 Desember 2014

Gw daftar secara online untuk pengurusan pembuatan e-paspor

4 Desember 2014

Seorang teman yang juga tidak mau ketinggalan juga segera mendaftarkan dirinya untuk pembuatan e-paspor secara online, dengan jadwal penyerahan dokumen dan foto satu hari sesudah gw. Tujuannya supaya kalau sampai ada sesuatu yang kurang atau salah di gw, dia bisa memperbaiki.

Hari itu juga kita berdua langsung bayar di BNI dan mendapatkan bukti pembayaran 3 rangkap. Setelahnya, kita konfirmasi lagi secara online bukti pembayaran kita, dan kita diminta datang pada hari yang sudah kita tentukan di awal untuk penyerahan dokumen.

Sip, beres, hati pun senang.

18 Desember 2014

Datanglah gw ke Kantor Imigrasi Jaktim pukul 7.50, langsung antre ke barisan pendaftar paspor online. Dan tiba2 diminta isi surat pernyataan bertandatangan di atas materai yang tidak disebut sedikitpun pada formulir syarat2 penyerahan dokumen. Bukannya ngomong, tau gitu kan bawa materai dari rumah.. Kesal sesaat, namun gw langsung terhibur setelah tahu bahwa di lantai 2 (tempat penyerahan dokumen dll) ada tempat fotokopi yang juga menjual materai.

Setelah memegang map yang diberi nomor antrean, gw ke atas untuk menunggu dipanggil di teller. Dari kira2 pukul 8.00, nomor gw dipanggil sekitar pukul 10.00 lewat. Gw menyerahkan dokumen sesuai syarat2 yang tertera, dan surat keterangan bekerja yang memang ditanya dan diminta.

Setelahnya gw mendapatkan nomor antrean lagi, untuk foto dan wawancara di ruang yang berbeda. Menunggu lagi kira2 setengah jam, lalu gw dipanggil dan duduk di meja interview sambil ditanya2 seputar rencana perjalanan keluar negri dalam waktu dekat dan tujuannya apa. Pekerjaan juga ditanya, padahal sudah ada surat keterangan dari tempat kerja keleusss.., situ yang minta aslinya.

Tetiba baju gw yang rapih ini, blus batik tanpa kerah dikomentari. “Wah bajunya gada kerahnya ya.” Pakai blazer dulu deh. Lagi2 ya tolong, di syarat2 tidak ditulis harus pakai baju berkerah. Cuman ditulis jangan pakai baju warna putih. Ya ampyun dikira gw bawa blazer kemana-mana kali yah. Lagi2 setelah kesal sesaat, gw merasa terhibur setelah diberi tau kalo ada blazer di pojok ruangan untuk dipakai. Awas loh ya ini kalo gw sampai bayar karena meminjam blazer ini (dalam hati).

Setelah foto (memakai blazer properti kantor imigrasi yang kebesaran), gw disuruh cek foto gw dan enggak ditawarin mau foto lagi apa enggak. Beda ya, Trinity di blognya menuliskan, boleh foto lagi kalau kurang puas. Huh! (kembali kesal sesaat). Petugas foto, meminta gw datang lagi setelah 3 hari kerja. Saat itu hari Kamis, maka gw harus datang kembali pada  hari Selasa. Ya sudah gw pulang dengan membawa kertas tanda pengambilan paspor.

23 Desember 2014

Karena gw bekerja di kantor pelayanan, gw baru bisa izin setelah pelayanan selesai. Saat itu sesudah jam 11.00 barulah gw bisa keluar kantor dan buru2 mengantre di tempat pengambilan paspor di lantai 1. Sayangnya hingga jam 12 siang nama gw belum dipanggil, lalu karena teller tutup istirahat hingga jam 13.00, maka kembalilah gw ke kantor dengan tangan kosong dan perut kosong.

Pukul 13.30 setelah perut terisi, mood pun bahagia, gw kembali duduk manis di ruang tunggu tempat pengambilan paspor. Hingga pukul 14.30, nama gw baru dipanggil dan apa mau dikata sodara2..

E-paspor gw belum jadi..

“Datang setelah 3 hari kerja lagi ya.. belum naik cetak.”

Gw langsung menanyakan ke petugas teller yang adalah seorang ibu paruh baya muka datar tidak ramah,

“3 hari berarti besok, lalu libur natal, cuti bersama, senin, selasa. Saya selasa ya ibu ke sini lagi.” Ucap gw dengan tegas.

“Saya kan juga kerja di pelayanan Bu ga bisa izin terus menerus. Tolong ya Ibu, saya datang hari selasa udah jadi kan paspornya? Saya minta no telpon sini deh ya.”

“Iya kita usahakan..” (dengan muka yang selalu datar) mungkin itu udah default-nya dia tiap ada yang nanya jawabannya begono. Si ibu pun meminta no telp gw dan bilang akan menelpon gw kalau paspor gw sudah jadi.

“Tapi untuk amannya sebelum ke sini, telpon aja dulu, nih nomornya” kata si ibu.

Sambil gw catat no telponnya, gw bergumam dalam hati, “Ini mah sama aje kali gw yang nelpon. PHP deh pake minta no telpon gw segala.”

Kembali dengan tangan hampa, hati hampa, gw balik ke kantor.

Melihat kejadian ini, teman gw yang dijadwalkan datang besok untuk mengambil paspor jadi ragu, jangan2 paspor dia belum jadi juga kan. Secara alasannya belum naik cetak. Saat itu kita berpikir, oh mungkin imigrasi menunggu jumlah pemohon e-paspornya mencapai kuota, baru naik cetak. Sangat positif pikiran kita sodara2.. kita memang manusia yang sangat positif..

29 Desember 2014

Teman gw yang dijadwalkan datang pada hari Rabu minggu lalu, mencoba untuk menanyakan nasib e-paspornya yang jika pakai logika manusia pada umumnya (tidak perlu jenius), seharusnya sudah jadi karena sudah lebih dari 3 hari kerja loh.

Sebelum kesana, gw sudah menghabiskan waktu luang gw (jeda antar layanan) untuk menelpon no kantor imigrasi beserta extension yang diberikan si ibu teller muka datar tidak ramah itu. Hingga jam istirahat pukul 12.00, masi saja nomor telpon itu tidak diangkat2 dan ujungnya masuk ke fax.

Ga percaya? Nih no telponnya. 021-8503896 ext.1 Coba aja telpon! Pasti ga diangkat-angkat.

Teman gw yang mulai gusar, penasaran dan berangkatlah ke sana seusai jam istirahat.

Sepulang dari sana, harapan itu ternyata sirna. Teman gw menceritakan bahwa e-paspor dia juga belum jadi dengan alasan yang terdengar ngasal seperti e-paspor emang lebih susah (apanye Bu??). Teman gw yang ga puas dengan jawaban ngeles si ibu teller muka datar tidak ramah itu pun meminta untuk bertemu dengan customer service untuk melakukan pengaduan. Setelah ngadu, sedikit kesel, dan sedikit curhat sama petugas costumer service yang sepertinya seumuran dengan gw dan temen gw, teman gw memaksa untuk meminta no telpon pribadinya. Bukan bermaksud untuk kenalan, ngajak jalan, apalagi meneror, kita cuman ga mau aja di PHP-in dengan no telpon kantor yang dari semenjak pagi, gw dan teman gw hubungi ga ada yang angkat. Teman gw bilang, si petugas customer service yang sebaya kita ini akan menelpon kita besok untuk mengabari paspor dia sudah jadi atau belum.

30 Desember 2014

Semenjak pagi teman gw sudah mencoba menghubungi si petugas customer service tapi masuk ke mailbox terus. Hingga akhirnya terjadi suatu kejaiban, menjelang siang terdengar dering yang nyaring sekali yang sangat membahagiakan.

Yup akhirnya ada telpon dari sang customer service. Dengan suara yang tidak jelas seperti sedang berada di sebuah pulau terisolir yang tidak ada sinyal, dia menyampaikan kabar bahagia bahwa paspor teman gw sudah jadi. Sayangnya ketika ingin menanyakan nasib paspor gw, hubungan terputus dan ketika berusaha menghubungi dia, kembali hanya mailbox yang bersuara.

Dengan logika manusia pada umumnya (tidak perlu jenius), kita dapat menyimpulkan jika paspor teman gw saja yang diurus 1 hari sesudah jadwal gw sudah jadi, maka paspor gw tentunya harusnya sudah jadi kan?! Dari awal kan kita selalu berpikir positif, ketika naik cetak, maka semua e-paspor harusnya bisa selesai.

Dengan muka berseri2 , datanglah gw dan teman gw ke imigrasi setelah jam isitirahat. Dan untuk kesekian kalinya gw minta izin ke kantor *astagfurullahalazim*.

Setelah menaruh bukti pembayaran BNI dengan urutan nama gw terlebih dahulu, kita lalu duduk manis menanti panggilan. Sebenarnya gw sempat merasa ga yakin sih karena memang keberadaan e-paspor gw belum terkonfirmasi layaknya temen gw. Deg2an juga nih. Yang terburuk adalah kalo e-paspor gw belum jadi. Gw akan sangat kesal sekali.

Sekitar pukul 14.00 nama teman gw dipanggil, dan taraaa.. jadilah e-paspor dia… Bungkus cyiin!!

Dengan masih berpikir positif, kita menantikan saat yang paling mendebarkan ketika nama gw dipanggil. Tapi koq sudah hampir 15 menit, nama gw belum terdengar juga. Padahal sesudah teman gw sudah banyak nama2 yang dipanggil. Majulah gw ke teller untuk menanyakan.

“Bu, nama saya koq belum dipanggil, tadi temen saya udah loh, padahal kan urutannya saya dulu.”

“Iya mbak, namanya siapa? coba kita cek.”

Ga berapa lama, nama gw dipanggil

“Mbak, maaf ini belum ada paspornya, belum jadi.”

“BELUM JADI GIMANA BU?? SAYA UDAH DATENG MINGGU LALU SESUAI YANG DIMINTA. KATANYA BELUM JADI, DISURUH DATANG LAGI SEKARANG BELUM JADI JUGA?? GIMANA SI IBU. TEMEN SAYA YANG BIKINNYA 1 HARI SETELAH SAYA KOQ MALAH UDAH JADI. PUNYA SAYA BELUM…”

“SAYA SUDAH BOLAK-BALIK TAPI BELUM JADI JUGA. SAYA KAN JUGA KERJA IBU. SAYA JUGA KERJA DI BAGIAN PELAYANAN IBU. KASIAN PASIEN2 SAYA. DIMANA INI PROFESIONALISME ANDA??”

“YA MBAK KAN MAKANYA MBAK TAU SAMA2 DI PELAYANAN KITA JUGA KALO KE RT APA RW KAN GA SEKALI DATENG  JUGA.”

“LOH SAYA YA GA BISA KALO TERUS BOLAK BALIK BEGINI, IZIN TERUS, KASIAN PASIEN2 SAYA JADI TERLANTAR.”

     “YAH INI KAN URUSAN PRIBADI MBAK.”

“YA SAYA TAU INI URUSAN PRIBADI SAYA. SAYA SUDAH IZIN UNTUK PENGURUSAN INI SESUAI KETETAPAN HARI YANG TERTERA. TAPI KALO SAYA DISURUH BOLAK BALIK SEPERTI INI KAN BUKAN SALAH SAYA. KALO SESUAI ATURAN YA PASPOR SAYA SUDAH JADI DARI KEMAREN, BUKAN SAYA YANG MENANGGUNG AKIBATNYA. INI KAN BUKAN SALAH SAYA PASPOR BELUM JADI. INI KAN KESALAHAN DI ANDA KENAPA PASPOR SAYA BISA GA JADI2!!!! BUKAN SAYA!!!”

Tentunya mata gw membelalak menuju ke arah ibu teller muka datar tidak ramah itu.

Karena ruang tunggu yang makin siang makin sepi kayak kuburan, emosi jiwa gw menciptakan suatu keramaian tersendiri hingga suasana sekitar seakan-akan hening dan petugas2 lain yang berada di balik teller menatap gw penuh tanya. Dan tentunya orang2 yang masi berada di ruang tunggu juga membisu. Mungkin mereka bingung, ada apa ini?

Lalu ada seorang petugas kepo di belakang teller ada yang mendekat dan bertanya,” kenapa ini kenapa ini? Si ibu muka datar tidak ramah bilang kepada sang kepoers, “ini mbak ini udah bolak-balik dari minggu lalu paspornya belum jadi juga.” Sambil mendengarkan dialog mereka berdua, dapat dipastikan saat itu hidung gw sedang kembang kempis akibat ngos2an habis ngomel .

Ngomel itu capek loh bok..

Lalu si petugas pria kepoers dengan muka yang lebih ramah, meminta gw untuk menunggu, duduk dulu. “Sebentar ya mbak coba kita periksa lagi namanya.” Duduk lah gw kembali ke tempat tunggu semula di samping teman gw yang agak syok melihat gw yang biasanya adem ayem saja tapi begitulah saat itu.

Sambil mengatur nafas dan menenangkan diri, terdengar suara heboh di balik teller seperti suara orang naik tangga, dan ada yang berteriak2 nama gw dengan di eja per huruf H.A.P.P.I.L.I.O.N.A.I.R.E. Gw dan teman gw bertatapan sambil menggelengkan kepala. Sambil menunggu, gw dan teman yang semenjak jam istirahat memang sudah ‘nongkrong’ di situ, mulai menyadari ‘anomali’ di sekeliling kita.

Orang2 di sekeliling kita tidak lain tidak bukan sepertinya adalah calo. Dari gelagatnya yang bolak balik meng-escort orang, mengambil paspor hingga 5 buah sekaligus, saling kenal satu sama lain, dan stay disini mulai jam 14.00 ke atas. Bahkan ada satu dialog antara seorang ibu2 ber-nametag dengan seorang bapak rapi membawa tas kerja yang membuat gw dan teman gw sungguh tercengang.

Si ibu bilang gini, “ya udah pak gapapa di sini aja gada cctv.”

Lalu mereka berdua menunduk dengan muka menghadap ke bawah di balik senderan kursi tunggu di depan mereka, sementara si ibu membuka tasnya lebar2.

“Sepertinya telah terjadi transaksi”, kata temen gw. “Wah sayang bgt tadi ga kita rekam”, kata gw.

Ya meneketehe kali orang2 ‘lurus’ macam kita kalau mau ada transaksi begituan di depan mata kepala sendiri. Demi Allah!

Habis itu kita jadi iseng, sembari menunggu, teman gw mengeluarkan hp dan mengambil gambar mereka diam2. Tapi memang “gold moment” nya sudah berlalu. Dari hasil rekaman kita, gada dialog yang seseru tadi dan hanya menampilkan muka2 orang menyedihkan seperti mereka.

Hampir jam 15.00, nama gw dipanggil.

ALHAMDULILLAH!! E-paspor gw TIBA2 JADI… JADI!!!

Tetap dengan settingan muka antagonis ke ibu teller gw berucap TERIMA KASIH, SELAMAT SIANG!

Sebelum kembali ke kantor, sesaat gw tunjukan e-paspor ke teman gw. Dan betapa kagetnya kita bahwa lembaran plastik halaman pertama paspor masi panas dan sedikit berkerut seperti baru keluar dari suatu mesin pencetak.

Lalu teman gw berucap, “ini bener2 baru dicetak deh kayaknya abis lu ngomel tadi.”

Indonesia, Indonesia… Buat apa dipermudah kalau bisa dipersulit..

FYI teman2, gw dan teman ke sana di saat hari kerja jadi kita menggunakan seragam pemprov DKI. Bayangkan orang berseragam seperti gw aja bisa begitu, gimana orang yang ga pake seragam. Dan kita benar2 mengikuti segala prosedur yang seharusnya, yang tertera di persyaratan dan tata cara tanpa jalan pintas sedikitpun. Kita lurus loh jalannya, tapi dibelokin tuh sama orang2 menyedihkan itu.

Pikirlah sendiri.

Memang bagusnya ya teman2 kalau ga mau mendadak penyakitan, tekanan darah naik gara2 emosi jiwa menghadapi mereka. Lebih baik ga usah deh urus e-paspor di Imigrasi Jaktim. Gw dan teman gw sampai berjanji, Insya Allah kalau diberi umur panjang 5 tahun lagi kita ga mau perpanjang paspor di Imigrasi Jaktim, lebih baik di Imigrasi lain saja yang tidak menyengsarakan.

3

Air Asia, Sekarang Saya Bisa Berpetualang Kemanapun.. Terima Kasih!

Pertama kali dengar ada maskapai penerbangan berbiaya rendah Air Asia di Indonesia, saya sempat tidak percaya. Apa iya gitu terbang naik pesawat bisa murah meriah. Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu peduli berhubung saat itu saya masih pusing memikirkan kuliah. Lagipula setahu saya tiket hanya bisa booking via online dengan pembayaran menggunakan kartu kredit. Aduh bukan prioritas saya deh, walaupun batin tetap penasaran.

Muka sumringah ketika baru saja tiba di LCCT

Muka sumringah ketika baru saja tiba di LCCT

Bertahun-tahun kemudian sampai akhirnya saya selesai kuliah dan mulai punya uang sendiri, saya tetap penasaran sama Air Asia. Apalagi saat itu Air Asia sudah cukup beken, dan menjadi trendsetter maskapai berbiaya rendah. Ternyata rejeki tidak kemana, di tahun yang sama ketika saya menyelesaikan kuliah, saya ditraktir oleh pakde saya naik Air Asia. Dan bukan main senangnya setelah tahu bahwa saya diajak terbang ke Malaysia. Ini menjadi penerbangan perdana saya ke luar negri. “Ini perjalanan luar biasa!”, pikir saya saat itu. Yang pertama memang selalu spesial.

Saat itu saya terbang ke Malaysia, lanjut ke Singapore, baru pulang ke Indonesia dan kesemua penerbangannya menggunakan Air Asia. Jangan-jangan pakde saya adalah duta Air Asia.. Wkwkwk..

Tapi perjalanan “traktiran” itu belum menghilangkan rasa penasaran saya. Bagaimana tidak, lah saya saja belum pernah booking dan bayar tiket penerbangan sendiri. Di mana serunya?

Pada waktu itu, saking niatnya sampai-sampai saya membuat kartu kredit. Demi.. demi..

Nah sejak itulah saya baru bisa mandiri. Saya mulai sering deh “tongkrongin” promo2 Air Asia, booking tiket sendiri, dan terbang. Saya akhirnya merasakan juga yang namanya tiket promo, tiket murah meriah, terbang tanpa bagasi, dan sensasi “backpackeran”. Yang pasti saya jadi sadar bahwa ternyata minat saya selama ini adalah traveling. Saya sangat menikmati itu semua.

Slogan Air Asia: Now Everyone Can Fly.. Itu mencerminkan saya banget.

Sudah beberapa rute saya jalani dengan Air Asia baik dalam maupun luar negri. Selain penerbangan perdana saya keluar negri, saya juga mempunyai kesan yang mendalam ketika saya berhasil menuju daratan impian saya, India.

Sempat gagal dan menghanguskan tiket promo Air Asia saya di tahun sebelumnya, bikin saya kecewa sekali. Tapi apa yang sudah dicita-citakan pasti berhasil jika memang ikhlas ingin dijalankan. Akhirnya saya tetap jadi ke India di tahun berikutnya menggunakan Air Asia pula. Tiket hangus ternyata tidak bikin saya kapok. Hehe..

Di atas Tteluk Bengali manuju India

Di atas Teluk Bengali menuju India

India memiliki kesan yang mendalam untuk saya, saya sampai tidak bisa berkata2. Yang saya tahu, sekarang saya menjadi orang yang suka bercerita dan saya tuangkan dalam blog. Padahal saya bukan petualang handal apalagi penulis profesional. Seakan-akan menjadi manusia baru saya.

3

Untuk pertama kalinya saya traveling seperti ini

Terima kasih Air Asia sudah membuat saya sampai ke India. Saya sudah merayakan Festival Holi, loncat di depan Taj Mahal, dan foto bareng Musisi Kobra selama di sana. Dan yang pasti saya sudah berpetualang, benar-benar hal yang tidak pernah saya sangka-sangka bahwa saya bisa melakukan itu. Hehe.. Mimpi bisa kok menjadi nyata..! Malah kadang kenyataan lebih indah daripada mimpi itu sendiri. :)

Belum selesai sampai di situ mimpi saya, traveling dan berpetualang memang bikin ketagihan. Setelah India, Nepal adalah negara berikutnya yang harus saya taklukan. Obsesi saya berikutnya adalah Himalaya. Akan.. Segera!!

Himalaya.. tunggu saya..!!
Air Asia, saya akan naik kamu lagi.. :p

2

Jaipur Is A Rock City!

Welcome to Jaipur

Welcome to Jaipur

Indeed, Jaipur itu memang kota batu. Kenapa? Karena batu2 permata berkilau nan kinclong aneka rupa melimpah ruah di sini. Termasuk toko2 penjual batu permata yang sampe tumpeh2.

Tapi buat gw, Jaipur is a rock city…!! bukan secara harfiah.. tapi Jaipur itu keren!! Abisss!!

The Gorgeous Amer Fort

The Gorgeous Amer Fort

Jaipur itu gersang, panas, ngejreng lagi!! Agak oranye gimana gitu nuansanya. Walaupun suka disebut pink city, menurut gw lebih cocok disebut peach city coraknya. Di sini ada banyak tempat2 peninggalan sejarah, yah sebelas duabelas sih sama kota lain di India yang punya kawasan old city yang biasanya ada benteng, lengkap beserta istana di dalamnya plus monumen2, dan pasar. Tapi di sini itu beda.. Gw sukaa Jaipur..

too bad, Hawa mahal is under construction

too bad, Hawa mahal is under construction

 

 

Jal Mahal

Jal Mahal

Symmetrical Garden inside Amer Fort

Symmetrical Garden inside Amer Fort

Mirror mirror on the wall inside Sheesh Mahal (mirror palace)

Mirror mirror on the wall inside Sheesh Mahal (mirror palace)

Setiap foto gw di Jaipur rasanya keren semua! #MaafNarsis #PedeAja

Me in front of Ganesh Gate

In front of Ganesh Gate

Chillin' at jantar Mantar

Chillin’ at jantar Mantar

Pink wall at City Palace

Pink wall at City Palace

For our next album cover :D

For our next album cover :D

Belum lagi pasarnya, Pink bazaar yang berisi deretan toko baju, sepatu, aksesoris, dan suvenir khas india, sungguh menggoda iman deh pokoqnya.. Kalau gw lebih lama dan bawa lebih banyak uang di jaipur, mungkin bisa nambah bagasi berpuluh kilo pulang dari sini.

Bazzarrrr

Bazzarrrr

Jaipur rocks, but my twist rocks more..

Gw kepengen banget kan foto bareng musisi kobra, jadi pas ada si tukang kobra, gw samperin lah. All is well, jepret kiri jepret kanan. Eh pas gw mau cabut, gw malah dipalak. Sementara gw mau kabur, itu keranjang kobra ngewer gitu aja ga ditutup.. gimana gw mau lewat coba?? Kobranya masi nari2 depan batang hidung gw.. Syereem! Bayar aja deh daripada kita dipatok ya cyyiinn.. Cost: Rs.200 Asyeem!

The Rs.200 Picture

The Rs.200 Picture

Selain kepengen foto bareng kobra, gw kan juga kepengen nonton film India di bioskop India. *banyak pengennya* Jadi datanglah gw ke bioskop heits di Jaipur. Di sini walaupun bioskopnya ala2 teater opera dan bagus, antrean tiket tetap di luar gedung. So, panas2an deh gw antre di luar, untung ada yang ladies queue. Ga nyangka gw segitunya, bela2in demi nonton film India.. Padahal gw boro2 deh suka, tau juga enggak film2nya. Gw paling tau Kuch Kuch Hota Hai dan Koi Mil Gaya karena dulu sering diulang2 di Indosiar.

Raj Mandir Theater presents Himmatwala

Raj Mandir Theater presents Himmatwala

Selain geli pada diri sendiri, sebenernya yang bikin gw lebih geli adalah, gw dan teman2 yang antre tiket itu ditontonin dan diketawain sama orang2 lokal yang juga lagi antre tiket. Lah emang kita lucu ya?? Emang situ doank yang ngefans sama film bollywood?? Kita juga lagee.. plis deh!! :p

Still pose at the ladies queue hihiihi

Still pose at the ladies queue hihiihi

Meanwhile..

Meanwhile..

Abis capek panas2an ngantre, kaget juga gw pas masuk gedung dalamnya bagus, dingin, luas, ada penjual popcorn dan minuman. Lebih kaget lagi pas masuk teaternya, ternyata benar2 teater dalam arti sebenarnya, karena gw duduk di balkon barisan paling depan (kelas premium). Mantap! Sementara ‘rakyat jelata’ menonton di bawah rame banget.

Front row seater

Front row seater

'rakyat jelata'

‘rakyat jelata’

Kagetnya belum selesai, pas film mau dimulai lampu dimatikan dan tirai layar terbuka, penonton langsung pada prikitew! Ya elah.. belum juga mulai. Nah, waktu filmnya mulai pada tepuk tangan deh tuh.. ini apa banget deh!

Mau dimulai filmnya

Mau dimulai filmnya

Pokoqnya sepanjang film, itu penuh teriakan2 prikitew dan tepuk tangan, terutama adegan pas jagoannya keluar nyelamatin cewe. Wkwkwkwk.. Pas adegan nyanyi + joged2 itu juga tepuk tangan rame banget mengikuti irama lagu.. duile..! Dan lagi2 gw dan teman2 ‘bangsawan’ di balkon ga habis2 ketawa gara2 itu.. Banyak tariannya, banyak prikitewnya, berisiklah pokoqnya. Cost: Rs.250

Oh iya gw mau mengingatkan juga, karena Jaipur itu keren makanya scam di sana juga keren. Scam yang mereka lakukan itu terselubung dan memakai nama institusi resmi. Berhati2lah sama tawaran2 dari guide resmi di sana. Gw sempat menggunakan jasa guide resmi di Amer Fort and no problem at all. Selesai memandu kita di Fort, doi langsung memandu kita ke tempat belanja. And the problem begins.. Tempat belanja ini resmi sih punya pemerintah, cuman ‘maksa’. Gw dan teman2 di’jorok’in ke satu kompleks toko tertutup yang penjagaannya ketat sekali, seketat baju2 Shah Rukh Khan di filmnya. Kompleks toko ini terdiri dari beberapa bagian, ada bagian batu2 permata, baju, aksesoris, handycraft, dll, dan kita digiring ke tiap bagian2 ini. Gw serasa lagi diospek disini. Tiap bilang “No, thank you!” Semua penjaga toko seakan mau menelan kita bulat2. Tiap ada ‘mangsa’ baru, kita baru bisa buang nafas. Fiuh! Hasilnya kita ga beli barang sepeserpun. Maaf ya, situ kayak ngebully sih dagangnya. Be careful guys! Cost: Rs.0

Tapi di antara itu semua, yang paling nyesek dari semua ke-KEREN-an Jaipur adalah kartu pos yang gw kirim langsung dari Kantor Pos Pusat Kota Jaipur dengan perangko 2 biji (sesuai anjuran si mbak pos) tidak ada yang sampai ke Indonesia satu biji pun. Total 10 kartu pos yang gw kirim, tidak ada satupun yang sampai. Dan itu sudah 1 tahun yang lalu.. Huuhuu.. Nyasar ke Samudra Hindia apa yah?? :( #masipenasaran

Gimana? Gimana?

Jaipur still rocks, huh? For Me, it’s still a big yes!! :D

Yuk, main ke sini!!

Yuk, main ke sini!!

The Iconic Red Fort Picture with Indian Flag

Ternyata, Warna Merah Mendominasi Kota Delhi

Jaipur disebut pink city, sudah biasa. Jodhpur sering disebut blue city, memang iya. Tapi Delhi coba disebut red city, malah dikira yang bukan2 nanti.

Delhi itu sebenarnya pantas lho kalau mau disebut “red city”, karena memang masih banyak bangunan batuan merah khas peninggalan Kerajaan Mughal yang kokoh berdiri. Semua bangunan khas Mughal memang rata2 berbahan dasar ini. Mungkin yang menyebabkan Delhi tidak disebut Red City ya karena bangunan2 ini lokasinya menyebar, tidak terpusat hanya di Old Delhi atau kawasan khusus.

Ikon kota Delhi, Red Fort dari namanya aja sudah ketahuan warnanya merah. Saking bekennya, semua mata tertuju ke Red Fort, sehingga banyak orang tidak memperhatikan bahwa banyak bangunan merah lain yang tidak kalah bagusnya di sekitar Delhi.

The Iconic Red Fort Picture with Indian Flag

The Iconic Red Fort Picture with Indian Flag

Red Fort, keren banget dari luar

Red Fort, keren banget dari luar

Red Fort betul memang keren abis keliatannya dari luar.  Sangat intimidatif! Gw juga kalau jadi pihak musuh, sudah takut duluan deh kalau mau mengajak perang. Sebelum masuk ke dalam, ada baiknya kelilingi dulu Red Fort ini dari luar, mungkin sedikit gempor apalagi sambil panas2an karena Red Fort ini gede banget memang. Tapi kerennya itu memang dari luar. Kalau kekeuh mau lihat dalamnya ya silahkan saja, loket antrean tiket biasanya mengular. Tapi itu belum seberapa dibandingkan antrean masuknya yang menaga. Hehe..

Karena ‘isi’ Red Fort biasa aja, gw memilih tidak berlama2 di sana dan langsung menuju red mosque alias Jama Masjid. Bangunan ini lumayan beken juga dan lumayan merah. Masjidnya cukup besar tapi sederhana dengan arsitektur khas mughal seperti bentuk gerbang masuknya dan hiasan gerbang masuk yang berlukiskan kaligrafi dan tampak berbingkai2. Asyiknya, kalau kita bilang mau sholat, gratis masuk sini.. yay! Tapi jangan lupa pakai kerudung ya buat yang cewe, kan mau sholat ceritanya, jadi harus sopan. Kalau misalnya ga sholat ya ada teras juga buat santai2. Biasanya warga lokal dan turis lokal yang kebanyakan dari Kashmir, habis sholat pada kongkow disini, jadi kalau suka mingle, ngobrol2 aja.

Btw gw sholat beneran di sini, jadi bukan asal pengen gratisan aja.. hihihi..

Sholat Dzuhur Berjamaah di Jama Masjid

Sholat Dzuhur Berjamaah di Jama Masjid

Anak Kashmir kayak bule :D

Anak Kashmir kayak bule :D

Red Fort dan Red Mosque ini ada di kawasan Old Delhi, deketan deh tuh. Kalau malas jalan, naik bajaj bayarnya Rs.40, hasil nawar dari Rs.50. #penting

Nah di dekat sini juga ada tempat makan beken yang seragam waiternya #uknowwhat merah warnanya (mulai maksa). Hits banget deh di segala buku panduan luar negeri ada semua, The one and only: Karim’s. Tapi maaf antiklimaks, buat gw biasa aja tuh rasanya. Mending pesan dessertnya aja, kheer rasa kelapa yang bikin segar… No further explanation. *antara nyebelin atau terlalu jujur*

 

The Famous Karim's Menu

The Famous Karim’s Menu

Kheer

Kheer

Dua tempat berwarna merah, masih asyik. Berikutnya, mulai bosan sedikit. Ada benteng lain yang dibangun sebelum Red Fort. Red Fort versi lama ini tampak lebih bersahaja, cantik, dan asri. Terlalu indah untuk menakut-nakuti musuh kali ya, makanya dibangunlah Red Fort baru yang lebih mencekam. Saking asrinya, banyak taman yang bisa dijadikan tempat untuk bercengkrama (pacaran), cocok juga mungkin untuk syuting video klip atau FTV. Namanya pun cantik, Purana Qila. Buat yang hobi mojok2, ke sini aja deh langsung!

Gerbang Masuk Purana Qila

Gerbang Masuk Purana Qila

Banyak Tamannya

Banyak Tamannya

 

Desain Rumit Gerbang Masuk Mesjid di dalam Kompleks Purana Qila

Desain Rumit Gerbang Masuk Mesjid di dalam Kompleks Purana Qila

Dan masih satu wilayah dengan Purana Qila, ada Qutab Minar. Tugu peringatan yang superduper tinggi ini juga berwarna merah dengan ukiran kaligrafi di sekelilingnya. Keren!! Wajib ke sini.

Gw pun hanya bagaikan upil di sini

Gw pun hanya bagaikan upil di sini

Kompleks bangunannya pun luas, ada beberapa tugu lain, beberapa kuburan, mesjid, dan pilar2. Tidak semua bangunan2 itu utuh, banyak yang sudah jadi reruntuhan. Pokoqnya masuk ke kompleks ini rasanya seperti kembali ke masa lalu. Untuk penyuka situs2 arkeologi, kompleks Qutab Minar itu lumayan banget lho untuk pemanasan sebelum ke Mesir atau Yunani atau Italia. *kejauhan yak perbandingannya* wkwkwkwk……

Reruntuhan keren

Reruntuhan keren

Terakhir, ada bangunan merah yang lumayan ramai juga dikunjungi, Humayun’s Tomb. Tingkat keboringan sudah tidak bisa diantisipasi. Merah lagi dan lagi.. Dari pintu masuk, jalan penghubung, taman, sampai pintu masuk kuburan, semua didominasi ornamen batu merah. Isinya ya sudah pasti adalah Kuburan sang Humayun. Sebenarnya kalau ini adalah tempat pertama yang dikunjungi, tidak akan boring sih. Kuburannya keren koq, cuman hari itu gw sudah kebanyakan ngider di tempat2 lain yang merah2 juga.

Gerbang masuk Humayun's Tomb sebenarnya keren

Gerbang masuk Humayun’s Tomb sebenarnya keren

Kuburan Sang Humayun

Kuburan Sang Humayun

Setelah berkeliling Delhi selama beberapa hari, gw baru ngeh hampir semua tempat yang gw kunjungi itu bernuansa merah, serupa tapi tak sama. Kalau dalam waktu seharian ya bosan banget pasti, harus dikombinasi sama tempat lain yang tidak bernuansa Mughal. Gw dan teman2 sempat bingung, ini emang kitanya yang kurang googling, apa ya memang selera kita Mughal banget.. Hehehe..

Sampai2 kita bercanda ketika itu, “Ini kita foto2 mulu dari tadi, emang bisa dibedain entar, ini yang dimana, itu yang dimana??” Secara semua foto latarnya batuan merah sodara-sodara.. :D

Anyway, kebanyakan tempat2 yang menarik di Delhi memang didominasi oleh peninggalan Mughal. Jadi agak sabar2 aja lah ya selama di Delhi mata agak panas karena lihat yang merah2 mulu.. Yang penting jangan jadi emosi ya habis keliling Delhi.. :)

Lake Pichola, Udaipur

Memandangi Danau Pichola di Udaipur, Woles Aja!

Pada suatu hari, gw browsing tentang Udaipur di internet. Dan langsung keluar gambar danau yang ada istana di tengah-tengahnya. Wuih istana khayalan! Mungkin ditambah efek fotografi kelas satu dan dicrop kanan kirinya, jadi keren bgt keliatannya. Dari situ gw baru tau ternyata memang ada istana ngambang dan beberapa hotel beken yang suka jadi tempat plesiran keluarga kerajaan Inggris. Pantesan aja iklannya gila2an. Sebut saja Hotel TLP aduh gambarnya keren abis. Ada juga Hotel SNP ini dulunya memang tempat tinggal raja penguasa Udaipur. Yah selera raja ga bisa bohong, emang bagus bgt tempatnya. Ya itu pandangan gw hasil survei di internet. Kalo aslinya ya belum tau. Rakyat jelata kayak gw mah sayang bgt deh nginep di situ.

Gw jadi bertanya-tanya kalo gw ga nginep situ, danaunya tetap bagus ga ya? Apakah Udaipur secantik itu tanpa harus menginap di Hotel TLP atau SNP? Ya sudahlah akhirnya sebelum ke sana gw booking guest house yang ngakunya di pinggir danau dan gw juga booking kamar yang katanya menghadap ke danau. Percaya aja deh, abis gada gambarnya di semua situs booking.

Gw sampai di Udaipur sore hari tapi masih terang benderang. Danau beken itu namanya Pichola, terletak di kawasan old city Udaipur. Suasananya sepi, tenang, adem ayem aja. Ada sih orang di jalan atau di toko, toko2nya juga banyak dan masih pada buka tapi ya sepi aja. Semua terasa lebih lambat di sini, matahari belum terbenam, orang-orang lokal terlihat santai jalannya, ga berkerumun, ga berisik, hampir ga ada kendaraaan bermotor, yang ada malah gajah buat jalan2, turis asing juga ga rame2 amat. Mungkin inilah yang disebut sentosa!

Image

Sepi kan..

Image

Sampai di penginapan juga gw capek habis road trip dari Jodhpur jadi malas ngapa2in. Untungnya benar kamar yang gw booking itu  menghadap danau pichola. Tentram rasanya melihat keluar jendela. Memandangi danau Pichola itu betah bgt loh. Udah gitu menjelang malam, matahari mulai terbenam. Ga keliatan mataharinya sih, tapi perubahan menuju malamnya itu dramatis aja buat gw. Indah bgt! Gw jadi males mandi, males makan, males beres2. Tempat ini emang bikin hidup jadi woles. Hahaha..

Image

Dramatisasi pake kamera hp

Image

Dramatisasi pake kamera poket

Malam juga keren

Saking males ngapa2in, gw bahkan ga tertarik untuk menjelajahi Udaipur. Kayaknya gw tuh cuman pengen mandangin danau pichola aja terus ga ngapa2in. Nikmatin suasananya. Sore dramatis, malam keren, nah apalagi pas pagi2 matahari terbit itu romantis buanget.. I love it!

Image

sunrise

Saking wolesnya, gw beneran serasa di rumah, pake baju rumahan gw makan di restonya, naik ke lantai paling atas cuman buat foto2, main ke teras cuman buat tidur2an, gelayutan di ayunannya cuman buat santai.

Image

Shah Rukh Khannya kaka..

Lebih lama sehari lagi aja di sini mungkin abis makan gw cuci sendiri piring gw. Wkwkwk.. Ada jampi2 apakah di guesthouse ini koq gw jadi males kebangetan.. hehe..

Sempet sih gw jalan2 di kawasan old city, enak juga ga terlalu rame. Lucu-lucu barangnya beda dari kota-kota lain yang udah gw datengin. Banyakan sih item fashion. Dan karena ga terlalu rame, milih barang lebih enak, harga juga ga mahal2 amat jadi ga perlu nawar sampe ngotot. Paling ya puanase aja ga tahan kalo udah siang.

Image

Salah satu hotel ngambang yang beken itu, tampak biasa aja kenyataannya

Image

Mundur sedikit ke belakang, panasnya cocok bgt buat ngejemur pakaian. wkwkwk..

Sama yang gw ga demen itu kalo masuk tempat wisata, salah satunya di sini ada city palace, chargenya banyak bener. Kamera bayar, gadget bayar, video recorder bayar semua dihitung per item. Bangkrut sayah.. :( Daripada bangkrut ga jelas mending mandangin danau pichola aja udah paling bener. Keliatan koq city palace dari sebrang. Hihihi..

Image

Ga bohong kan?! City palace keliatan koq.. :)

Pemandangan Sungai Gangga dari Atas Kereta Api

Blusukan ala Sungai Gangga, Agak Becek, Agak Random, dan Sedikit Horor

Sungai Gangga India, menjadi tujuan para peziarah seluruh umat Hindu di dunia. Tidak terkecuali para turis asing yang mengagumi ajaran Hindu dan ingin merasakan sensasi penyucian diri di sungai ini. Bagi umat Hindu, Sungai Gangga adalah sungai suci karena merupakan jelmaan Dewi Gangga yang turun ke bumi. Menurut ajaran Hindu, air Sungai Gangga itu berasal dari surga diturunkan langsung oleh Lord Wisnu. Namun karena Dewi Gangga kecewa dia telah diturunkan dari surga ke bumi, ia membanjiri seluruh semesta. Agar tidak terjadi bencana, maka Lord Siwa menahan dengan rambutnya sehingga aliran Gangga hanya menjadi beberapa aliran sungai yang lebih kecil. Makanya air Sungai Gangga dianggap bisa menyucikan diri dari segala dosa di muka bumi ini.

Di India sendiri ada beberapa tempat dari Sungai Gangga yang dianggap suci, antara lain di Gangotri, Haridwar, Allahabad, dan Varanasi. Pada kesempatan kali ini, gw mengunjungi Varanasi sebagai salah satu tempat aliran Sungai Gangga berada. Varanasi atau dulunya disebut Benares bisa ditempuh dari Kolkata ataupun Delhi dan dari kota kecil sekitarnya. Sebagai salah satu objek ziarah paling beken bagi umat Hindu, transportasi dari dan ke Varanasi cukup banyak. Jadi cukup mudah menuju kesana.

Gw mengunjungi Varanasi atas ajakan teman yang penasaran dengan Sungai Gangga seperti apa. Gw jujur saja tidak terlalu tertarik, selain karena gw bukan penganut Hindu, gw juga males jalan2 liat sungai doank. Gw denger2 kotor pula sungainya. “Apa bedanya dengan Ciliwung?” pikir gw saat itu.Tapi karena sekalian jalan menuju kota berikutnya, ga ada salahnya mampir ke Varanasi. Toh sekalian lewat.

Waktu gw naik kereta menuju ke sana dan hampir sampai, ada penumpang lain yang juga warga lokal semangat bgt ngajakin gw berdiri di pinggir pintu kereta. Yah setelah pegel tidur semaleman hayuk aja deh gw dan teman ngikutin dia. Ternyata kereta mau melewati jembatan tepat di atas Sungai Gangga. Dia langsung buru2 kasi gw koin. Dia bilang nanti pas di atas gangga kita lempar koin ini terus make a wish. Jadi deg2an gw. Haha..

Pemandangan Sungai Gangga dari Atas Kereta Api

Pemandangan Sungai Gangga dari Atas Kereta Api

Pas kita lewatin jembatan, aduh terkesima gw. Sungai Gangga itu bagus ternyata, luas seperti laut ada pantainya. Keliatannya juga bersih2 aja. Hehe.. sampe hampir lupa gw ngelempar koinnya.

Wah harapan gw mulai berlebihan nih habis liat Sungai Gangga yang ternyata bagus. Pasti kota Varanasi ok juga nih.

Sampai di stasiun Varanasi, beneran deh bertolak belakang. Sampai disana langsung dikerumunin para calo2 dan supir yang menawarkan jasa mereka. Belum lagi ada sapi, pengemis, dan tukang minta2 berserakan di jalanan menuju pintu keluar stasiun, nambah rame suasana aja. Dan lalat ada dimana2, tau gitu gw pake masker. Ini di mana sih? Koq kayak pasar. Hihi.. ini India say..! :D

Untungnya gw ketemu supir yang jemput dan langsung capcus ke guest house.. grrr..  ternyata dia bukan supir, tapi guide doank karena yg jemput kita itu bajaj. tapi walau cuman bajaj, muatannya banyak ternyata.  Di belakang kursi penumpang , bisa naro ransel gw dan teman2 yang segede alaihim itu. Dan si guide yang jemput kita duduk di samping supir bajaj plus satu tmn gw yg ga muat di belakang. Jadi 3-3 duduknya. Family pack banget deh bajaj-nya..

Gw udah seneng aja nih naik bajaj di India, eh tiba2 berenti loh dia. Kirain ada apaan, ternyata ga semua jalan raya itu bisa dipakai untuk kendaraan bermotor. Jadi lah baru naik bajaj sebentar kita udh harus gotong ransel dan berjalan kaki menuju guest house. Suasananya persis kayak pasar tanah abang waktu belum di rapihin, jalanan aspal tapi dimana2 pedagang kaki lima, terus orang pada jalan kaki serombongan2 gitu. Kadang ada sepeda, gerobak, wuih rame deh. Kalo kurang cepet jalannya bisa kesasar deh saking banyaknya orang. Setelah jalan kaki yg lumayan jauh jaraknya, ternyata guest house gw belum keliatan jg, dimana sih? Capek! Ternyata habis dari jalanan aspal itu kita masuk ke gang sempit yang rame dan becek pula. Sayang gada ojek :(

Ini kalo dibawa kabur sama guide juga gw ga ngerti dah mesti kemana. Gw aja bingung ini dimana?? Hadehh..

Setelah muter kiri-kanan senggol kiri-kanan serong kiri-kanan, sampe juga di guesthouse. Ternyata di pinggir sungai gangga persis guesthouse-nya, pantesan aja menuju kesana penuh perjuangan. :)

Abis check-in dan siap2 kita langsung jalan2 nih minta ditemenin sama guide kita tadi. Gw ngikut aja deh, secara gw ga terlalu excited bgt juga ke Varanasi. Tapi cukup senang liat pemandangan Sungai Gangga dari kereta tadi pagi, bagus soalnya.

Macam-macam Kuil

Macam-macam Kuil

Pertama2 kita dibawa keliling kuil2 kecil di dekat guesthouse. Di sepanjang gang dan percabangannya pasti ada kuil2 personal yang unik dan beda2 tergantung dewa yang mereka sembah. Ada Kuil Ganpati, Kuil Siwa, dan lain2. Biasanya ada kuil milik keluarga/perseorangan dan ada juga yang untuk umum. Dan di kuil keluarga biasanya di kompleks kuil mereka juga ada kandang sapi tempat peliharaan keluarga itu. Kan sapi itu hewan suci disana. Kuil2 ini gapapa untuk difoto dan untuk kuil umum boleh2 aja kalau kita mau masuk ke dalamnya.

Tidak semua gang ini rame. Kadang ada yang rame ketika melewati pasar, ada pedagang sayuran, baju, kue,chai, belum lagi warga yang pada belanja. Tapi kalo melewati daerah perumahan yah lumayan sepi, pintu2nya tertutup semua, kadang ada satu dua warga yang lagi nongkrong di depan rumah terus ngeliatin kita. Hehe..

Kadang saking pasrah enggak tau gang ini tembus dimana jadi excited aja. Kira2 di depan kita nemu apa lagi ya.. Hehe.. tiba2 gw dan teman2 udah di depan industri rumahan pembuatan sari, pangkalan pedagang es krim, trus di dekat toko2 tiba2 ada tentara yang bawa senjata lengkap. Buset ini apaan sih? Random bgt! Haha.. ternyata si tentara itu jagain kuil yang suka jadi sasaran teror antar agama.

Di Pasar Ya Rame

Di Pasar Ya Rame

Gang Perumahan yang Sepi

Gang Perumahan yang Sepi

Dari mulai tukang es krim, pembuat kain sari, warung chai, kue, ada semua

Dari mulai tukang es krim, pembuat kain sari, warung chai, kue, ada semua

Kiddos

Kiddos

Oh iya terus juga ada kuil kamasutra yang mirip dengan yang di Nepal. Dan saking sepinya, pengunjungnya kita doank. Di dekat situ juga ada kompleks perumahan asli yang dari jaman dulu udah ada. Tapi kita ga boleh masuk, hanya keturunan penduduk asli aja yang boleh masuk situ.

Kuil Kamasutra

Kuil Kamasutra

Gw itu paling senang kalo abis muter2 eh ujung2nya keluar di ghat Sungai Gangga. Langsung plong gitu rasanya.. Siang hari sepi bgt Sungai Gangga, beberapa perahu pada parkir aja gada orangnya. So far sih gw ngerasa Sungai Gangga itu bersih2 aja. Airnya juga ga coklat kayak Ciliwung.

Sungai Gangga di Siang Hari

Sungai Gangga di Siang Hari

Panas

Panas

Ibu2 ini malah kerja kasar di siang bolong

Ibu2 ini malah kerja kasar di siang bolong

Holy Man Versi Bule, Ngomongnya Aja Udah Pake Bahasa Indiahe..

Holy Man Versi Bule, Ngomongnya Aja Udah Pake Bahasa Indiahe..

Excuse me! Excuse Me!

Excuse me! Excuse Me!

Habis duduk2 bentar di pinggir Sungai Gangga, lanjut lagi blusukan ke dalam perkampungannya. Jangan bengong yah! ntar tiba2 diseruduk sapi. Ini beneran loh. Wkwkwk.. sapi udh kayak orang aja, kesana kemari, jadi kalo di tikungan liat2 dulu kita, takutnya pas belok ditabrak sapi. Hihi.. teman gw sempet diseruduk soalnya, untung ga sampe luka.

Habis makan siang, akhirnya kita diajak ke tempat yang udah kita tunggu2 dari tadi yaitu burning site atau tempat pembakaran mayat, tapi yang konvensional alias pake kayu bakar harum bukan yang modern. Ternyata disitu ada semacam pengelolanya gitu. Jadi si guide melepas kita ke pengelola burning site itu si bapak2 indiahe rada tuir. Sempet serem sih, mana pintu masuknya itu kandang sapi. ini arena apaan sih, pintu masuk koq kandang sapi. Tapi karena tempatnya terbuka dan guide gw bilang gapapa, ya udin gw dan teman2 masuk area burning site sama si bapak pengelola. Peraturannya “no camera”! baiklah!

Ternyata si bapak udh profesional juga nih, nerangin pake bahasa inggris mulai dari proses pendaftaran jenasah, pembelian kayu bakar oleh keluarga yang ditinggal, terus pemandian mayat dilakukan oleh anak laki2 mayat tersebut di Sungai Gangga. Dari yang gw liat, ada seorang bapak yg meninggal, ga dimandiin beneran gitu. Jadi mayatnya digotong pakai keranda berhias bunga2, kayak di Indonesia juga, cuman ga ditutup pake kain. Terus semacam dibasahin gitu pake air Sungai Gangga, dan si anak yang ditinggal mendoakan. Setelah itu si anak ambil dedaunan dan jerami yang sudah disiapkan juga kayu bakar yang sudah dipesan, siap2 utk pembakaran. Nah di sisi lain, sedang ada mayat yang dibakar, trus diajak lah kita sama si bapak pengelola untuk mendekat. Hawanya panas banget, keliatan badan mayat yang sedang terbakar dan mulai lepas anggota tubuh serta tulang2nya. Ya berdarah2 gitu.. Buat yang jiper mah kurang cocok mungkin ya. Sedikit horor mungkin buat yang ga terbiasa nonton “CSI”, “Body of Proof” atau “Bones”. Aduh pengen bgt foto tapi kan udah perjanjian di awal ga boleh foto dan ga sopan juga kali. Oh ya yang aneh lagi, tadi tuh di depan area ini banyak turis asing juga. Tapi kenapa yang turun ke sini cuman gw dan teman2 cobak. Liputan ekslusif ini mah. Selesai mengamati proses pembakaran dari dekat, si bapak cerita nanti abu diserahkan ke keluarga untuk ditabur di Sungai Gangga, dan sisa tulang belulang dibuang juga ke Sungai Gangga. Jleb! Jadi itu Sungai Gangga isinya tulang belulang semua ya.. Kalo minta tolong Dr. Bones untuk rekonstruksi tulang di dasar Sungai Gangga mah sampe kiamat juga ga bakalan selesai deh! Gw jadi mikir, itu orang2 pada mandi penyucian diri pake air abu mayat. Hakjleb! Belum lagi tadi sempet liat juga sapi2 yang berenang di Sungai Gangga. Pikirkan sendiri deh. Gw sih udah ga keruan mikirnya. Tapi buat penganut Hindu yang beriman mah pastinya ini bukan masalah. :)

Tumpukan Kayu Bakar untuk Kremasi konvensional

Tumpukan Kayu Bakar untuk Kremasi konvensional

Selesai tur pembakaran mayat kita diajak ke ruang penyimpanan daun2an, jerami2, dan kayu bakar. Lagi2 karena tempatnya terbuka kita hayuk aja. Nah ternyata disitulah kita kena ‘tipu2 ala Indiahe’. Bok kita disuruh bayar itu jerami sama daun2an dan kayu bakar supaya masuk surga.. Plis deh kaka..

Akhirnya biar cepet kita rame2 nyumbang seadanya lah ya. Doski ga terima, dia mau kita per orang nyumbangnya. Hih udh kayak iuran RT/RW aja sih.. selesai nyumbang baru deh kita dianterin ke pintu masuk tadi. Ketemu guide, kita langsung curhat ke dia. :( tapi pengalaman sekali seumur hidup gapapa lah..

Menjelang sore kita jalan2 lagi di pinggir Sungai Gangga, sambil menunggu waktu Puja Festival. Orang lokal sama turis asing udah mulai rame nih kongkow di pinggir sungai terutama yang dekat kuil2 besar. Sapi aja ikutan!  Masa kita enggak.? Hehe..

Kongkow Bareng Sapi

Kongkow Bareng Sapi

Holy Man versi asli

Holy Man versi asli

Yok Kite Nongkrong Rame2.. Yok!

Yok Kite Nongkrong Rame2.. Yok!

Cool Graffiti

Cool Graffiti

Pas udah mau gelap, kita naik perahu deh, gondola ala India! Sebelumnya beli dulu itu persembahan bunga dan lilin untuk Dewi Gangga, banyak bocah yang jualan bunga2 ini. Seru juga ternyata sore2 mengarungi Sungai Gangga, semua yang tadi kita liat di darat, tampak lebih jelas dari sungai, termasuk kuil2 dan ghat yang tadi kita lewati dengan berjalan kaki. Beberapa kali papasan dengan gondola2 turis asing termasuk peziarah lokal, mereka sempet2nya nanya kita dari mana. Indonesia! #bangga

Siap Mengarungi Gangga

Siap Mengarungi Gangga

Burning Site

Burning Site

Hari mulai gelap, mulai terdengar suara tabuhan drum dan gemerincing bel ala musik india. Perahu kita pun menuju kesana, karena di depan kuil itu lah sedang ada Puja festival. Semua gondola parkir dan menghadap ke arah kuil. Ramenya seru nih! :D Ada pedagang chai segala bok, dia pindah2 antar gondola nawarin chai. Mantap!

Ambil Posisi

Ambil Posisi

Puja

Puja

Puja

Puja

Melepas bunga persembahan untuk keberuntungan

Melepas bunga persembahan untuk keberuntungan

Ga berani pulang malam2, kita sudahi tur Gangga hari itu dengan menyalakan lilin persembahan dan melepasnya di Sungai Gangga. Terang jadinya Sungai Gangga, penuh bunga2 bercahaya. What a great experience! I’m so happy! Gw yang ga berharap banyak dengan Varanasi dan Gangga, malah punya sesuatu untuk dikenang dan diceritakan. :)

Nah apalagi kejadian setelah gw pulang dari Sungai Gangga. Itu bukan sesuatu untuk dikenang lagi deh! Ga bisa gw lupain malah.. That’s the real experience! Penasaran kan apa yang terjadi berikutnya?? Bisa baca ceritanya di blog gw sebelumnya “Untuk Pejalan Cewe, Ke India Ga Cukup Modal Bismillah Aja!”

*sok sinetron bgt sih gw* peace out yo!

Hahaha..

Kalau sudah baca blog gw yang itu, lanjut lagi nih ceritanya. Untung tokoh utama selamat. Jadi masi bisa liat matahari terbit di atas Sungai gangga besok paginya :p

Gorgeous sunrise over Ganges

Gorgeous sunrise over Ganges

B.E.A.U.T.I.F.U.L.

B.E.A.U.T.I.F.U.L.

Golden Temple Night & Day

Golden Temple, In The Name of God of Punjabi

Siapa di sini yang sudah pernah nonton film Bollywood Rab Ne Bana Di Jodi?? Yang main Shah Rukh Khan. Hayo ngaku.. Hihihi..

Buat para pecinta film Bollywood pasti tau donk, di film itu ada salah satu tempat di India yang dijadikan latar film ini. Apa coba tebak??

Hhmmm.. Zzz.. Zzz.. *ngantuk *nyerah

Gw sendiri juga ga suka nonton film Indiahe. :D Jadi gw dapet bocoran dari teman yang suka nonton. Dia bilang wajib kesini untuk napak tilas tiap adegan Shah Rukh Khan..

Yes! Yang gw maksud adalah Golden Temple alias Kuil Emas.

Golden Temple ini letaknya di kota Amritsar, negara bagian Punjab. Jadi lebih utara dari Delhi, sudah dekat dengan Himalaya, tapi berbatasan langsung dengan Pakistan. Udaranya masih cenderung hangat tapi anginnya sejuk.

Di Amritsar, mayoritas penduduknya beragama Sikh. Agama Sikh asal muasalnya memang dari sini, makanya sering disebut juga agamanya orang Punjab, penduduk asli Amritsar. Mereka terkenal dengan tutup kepalanya yang khas. Pasti pernah liat, karena di Indonesia juga ada. Tapi kalau yang disini versi lengkapnya. Jadi kadang ada aksesoris yang menyertai tutup kepala, contohnya mereka pakai gelang besi dan membawa pedang kecil kemana-mana. Bahkan abege cewe yang gw temui di kereta api menuju amritsar aja pada bawa pedang ini di pinggang mereka. Gahar yah… Tapi enggak koq, itu kan simbol dari agama Sikh, justru itu bukti ketaatan mereka. Jadi mukanya gada yang serem, muka orang alim semua.

Amritsar ini merupakan kota ziarah bagi umat Sikh seluruh dunia, ga terkecuali untuk orang India sendiri yang mungkin tinggal di luar Amritsar. Selama perjalanan ke Amritsar, gw ga ketemu turis asing sama sekali. Rombongan gw pun satu2nya turis asing yang menginap di hotel dekat Golden Temple. Ternyata ini bukan sembarang tempat..

Hotel tempat gw nginep dekat sekali ke Golden Temple, tinggal ngesot lagi deh..! Survei tempat penginapan dan zoom-in/zoom-out google map itu penting sodara2.. Jadi ga buang waktu, dekat ke tujuan. Hehe..

Sampe di Amritsar gw ga langsung ke golden temple karena gw mengejar upacara penutupan gerbang Wagah di perbatasan Pakistan sana. Pulang dari sana, baru deh gw menyempatkan diri berkeliling di sekitar kuil yang banyak toko2. Apalagi tadi di perjalanan sempet liat baju lucu2 digantung. Blanja lagi blanja lagi.. X_x

Hari makin malam, pasar dan toko di sekitar Golden Temple masi ramai. Gw dan teman2 coba jalan2 karena penasaran sama baju yang kita lihat tadi siang. Ga disangka2 ternyata penduduknya ramah tamah. Tatapan matanya biasa aja, gada seorangpun yang menatap gw dan teman2 dengan kepo dari atas sampe bawah. Kayak lagi bukan di India rasanya. Dan yang paling penting, mereka sopan dan santun. Cakep2 juga lagi orang2nya.. putih2, wangi, dan bersih. Ini nyari baju apa gebetan sih jadinya.. Eaaa.. Wkwkwk..

Para pedagang di sepanjang toko yang kita lewati ga ada yang agresif dan nyebelin seperti kebanyakan. Kalo kita ngutak-ngatik barang dagangannya, dia ga akan buka mulut sampe kita nanya ini harganya berapa. Waktu ngobrol, mereka dengan sopan menanyakan asal kita dari mana, terus senyum tapi ga ganjen. Dengan senang hati ya kita ladenin lah.. Orang2nya ramah banget dan pembawaannya tenang. Mungkin dekat dengan tempat ibadah membuat orang jadi lebih beradab. Dan gw langsung jatuh cinta sama kota ini. Hawa malam jadi terasa makin sejuk, sesejuk orang2nya. Eaaaa.. *Ampun kaka..!!

Dua jempol bgt deh. Akhirnya gw ngerasain juga perasaan tenang ga waswas selama di India. Dan juga tanpa komat-kamit baca doa dalam hati. Konyol memang, tapi semenjak kejadian varanasi (gw ceritakan di blog sebelumnya) gw selalu waswas tiap keluar malam hari di India, jadi gw selalu komat-kamit dalam hati berdoa minta selamat sampe perjalanan gw selesai. Wkwkwk..

Selesai jalan2, udah jam 10 malam kita berencana balik ke hotel. Ternyata peziarah belum habis juga. Kita pikir sekalian aja nih kita lihat Golden Temple hari ini. Toh orang2nya ramah dan alim sepertinya bakal aman2 saja.

Ternyata benar jam 10 malam itu masi ramai peziarah yang berkunjung ke dalam Golden Temple, masi antre bahkan. Gw terkesima melihat kuil emas itu ngejreng bgt di tengah2 kolam, lampunya berkilauan memberi bayangan senada di kolam sekitarnya. Penasaran ada apa di dalamnya. Tapi melihat antreannya saja sudah males. Mengelilingi kompleks kuil cukup menyenangkan, sesudahnya duduk2 di pinggir kolam menikmati suasana dan angin malam yang sejuk bgt sambil memandangi benda gemerlap ini. Beberapa peziarah remaja tampak asyik kongkow sama teman2nya di pinggir kolam. Mereka seru bgt ngobrol dan foto2. Tiba2 ketularan mereka, kita ngikut deh ngobrol, foto2, sambil gegoleran di pinggir kolam. Jam 11 malam kita baru kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Ga nyangka ini adalah jam malam paling malam gw selama di india.

Golden Temple Night & Day

Golden Temple Night & Day

Koridor di Pinggir kolam

Koridor di Pinggir kolam

Pagi adalah waktu yang tepat untuk melihat Golden Temple dan kompleks kuilnya secara lebih jelas.

Dan lagi2, benda gonjreng itu menyilaukan mata ketika mulai menuruni anak tangga di pintu masuk.

Pada saat hari terang, matahari secara alami memantulkan cahayanya ke golden temple. Tanpa pencahayaan seperti di waktu malam, golden temple sendiri sudah benar2 berkilau. Koneng terang.

Gw dan teman2 berkeliling kompleks sekali lagi. Kali ini semua terlihat jelas, betapa bersihnya kolam di sekitar Golden Temple, juga sisi2 koridor kompleks kuil yang dipenuhi peziarah yang berdoa.

Kompleks Kuil yang mengelilingi Golden Temple

Kompleks Kuil yang mengelilingi Golden Temple

Ikan2 di Pinggir Kolam

Ikan2 di Pinggir Kolam

Dan memang benar, ada tempat yang menyediakan snack dan makanan gratis. Tapi karena sudah kenyang sarapan, dan jujur aja gw ga terlalu doyan makanan India, kita cuman nonton peziarah yang lalu lalang mengambil makanan mereka.

Food Centre

Food Centre

Snack Corner

Snack Corner

 

 

 

 

 

 

 

Di sepanjang koridor juga banyak terdapat kuil2 kecil tempat guru2 (pendeta sikh) berdoa, ada yang seperti di sebuah ruangan, ada pula yang seperti di dalam ruang kaca. Ada peziarah2 yang berkumpul di dekatnya untuk berdoa bersama. Hymne syair2 Sikh tidak henti2nya dikumandangkan. Ada pula beberapa lukisan Guru Nanak terdahulu yang sudah tiada, didoakan oleh para peziarah. Bahkan ada peziarah yang bersujud sampai menangis pilu.

Guru Nanak

Guru Nanak

Guru berdoa

Guru berdoa

Jadi ikutan terharu, padahal gw ga terlalu ngerti sebenernya dengan agama Sikh. Yah pokoknya ketika berada di suatu tempat ibadah pasti perasaaan jadi tenang, penuh kekhusyukan, dan suka cita. Sangat berke-Tuhanan lah pokoqnya, susah untuk dideskripsikan. Tiba2 gw langsung tersadar bahwa gw harus sesegera mungkin beribadah ke tempat suci agama gw sendiri.

Menuju Ke Dalam Golden Temple

Antrean Menuju Ke Dalam Golden Temple

Jadi malu sendiri gw. Tertampar bgt deh! Diantara teman2 pejalan, gw doank yang belum pernah berkunjung ke tempat suci agama gw sendiri. #Hakjleb

Selesai berkeliling dan ikutan terharu, sampai juga gw di antrean masuk ke dalam Golden Temple. Tapi kita semua gada yang berani untuk antre masuk ke dalam. Kita gatau ada apa di dalam sana. Lagipula kita kan hanya “turis” bukan peziarah yang mau beribadah. Jadi daripada menganggu kekhusyukan ibadah para peziarah, kita mundur aja akhirnya.

Yah, kadang ada hal yang di luar sana yang bikin kita penasaran, tapi entah kenapa perasaan kita ga mengizinkan kita untuk mencari tahu itu apa. ;)