WARNING: Jangan Pernah Sekalipun Membuat E-paspor di Imigrasi Jakarta Timur, atau Anda akan kena Darah Tinggi!

Fiuuuhhh.. nafas panjang gw untuk mulai menulis ini, benar2 sangat menyebalkan mengingat kejadian yang tidak menyenangkan itu. Tapi gada salahnya bukan untuk berbagi, supaya khalayak tahu yang sebenarnya tentang pengurusan e-paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Di saat e-paspor sudah mulai digalakkan dan disertai embel2 mudah membuatnya karena bisa via online, gw pun ikut termakan iklan dan ingin segera mengganti paspor lama gw yang memang sudah mau habis masa berlakunya 2015 ini. Seorang teman yang juga ingin membuat paspor, turut memicu gw untuk segera mengurus e-paspor ini. Tapi ya ternyata proses pembuatan e-paspor di Imigrasi Jaktim itu pahit buat gw, walaupun akhirnya manis.

Begini kronologinya:

3 Desember 2014

Gw daftar secara online untuk pengurusan pembuatan e-paspor

4 Desember 2014

Seorang teman yang juga tidak mau ketinggalan juga segera mendaftarkan dirinya untuk pembuatan e-paspor secara online, dengan jadwal penyerahan dokumen dan foto satu hari sesudah gw. Tujuannya supaya kalau sampai ada sesuatu yang kurang atau salah di gw, dia bisa memperbaiki.

Hari itu juga kita berdua langsung bayar di BNI dan mendapatkan bukti pembayaran 3 rangkap. Setelahnya, kita konfirmasi lagi secara online bukti pembayaran kita, dan kita diminta datang pada hari yang sudah kita tentukan di awal untuk penyerahan dokumen.

Sip, beres, hati pun senang.

18 Desember 2014

Datanglah gw ke Kantor Imigrasi Jaktim pukul 7.50, langsung antre ke barisan pendaftar paspor online. Dan tiba2 diminta isi surat pernyataan bertandatangan di atas materai yang tidak disebut sedikitpun pada formulir syarat2 penyerahan dokumen. Bukannya ngomong, tau gitu kan bawa materai dari rumah.. Kesal sesaat, namun gw langsung terhibur setelah tahu bahwa di lantai 2 (tempat penyerahan dokumen dll) ada tempat fotokopi yang juga menjual materai.

Setelah memegang map yang diberi nomor antrean, gw ke atas untuk menunggu dipanggil di teller. Dari kira2 pukul 8.00, nomor gw dipanggil sekitar pukul 10.00 lewat. Gw menyerahkan dokumen sesuai syarat2 yang tertera, dan surat keterangan bekerja yang memang ditanya dan diminta.

Setelahnya gw mendapatkan nomor antrean lagi, untuk foto dan wawancara di ruang yang berbeda. Menunggu lagi kira2 setengah jam, lalu gw dipanggil dan duduk di meja interview sambil ditanya2 seputar rencana perjalanan keluar negri dalam waktu dekat dan tujuannya apa. Pekerjaan juga ditanya, padahal sudah ada surat keterangan dari tempat kerja keleusss.., situ yang minta aslinya.

Tetiba baju gw yang rapih ini, blus batik tanpa kerah dikomentari. “Wah bajunya gada kerahnya ya.” Pakai blazer dulu deh. Lagi2 ya tolong, di syarat2 tidak ditulis harus pakai baju berkerah. Cuman ditulis jangan pakai baju warna putih. Ya ampyun dikira gw bawa blazer kemana-mana kali yah. Lagi2 setelah kesal sesaat, gw merasa terhibur setelah diberi tau kalo ada blazer di pojok ruangan untuk dipakai. Awas loh ya ini kalo gw sampai bayar karena meminjam blazer ini (dalam hati).

Setelah foto (memakai blazer properti kantor imigrasi yang kebesaran), gw disuruh cek foto gw dan enggak ditawarin mau foto lagi apa enggak. Beda ya, Trinity di blognya menuliskan, boleh foto lagi kalau kurang puas. Huh! (kembali kesal sesaat). Petugas foto, meminta gw datang lagi setelah 3 hari kerja. Saat itu hari Kamis, maka gw harus datang kembali pada  hari Selasa. Ya sudah gw pulang dengan membawa kertas tanda pengambilan paspor.

23 Desember 2014

Karena gw bekerja di kantor pelayanan, gw baru bisa izin setelah pelayanan selesai. Saat itu sesudah jam 11.00 barulah gw bisa keluar kantor dan buru2 mengantre di tempat pengambilan paspor di lantai 1. Sayangnya hingga jam 12 siang nama gw belum dipanggil, lalu karena teller tutup istirahat hingga jam 13.00, maka kembalilah gw ke kantor dengan tangan kosong dan perut kosong.

Pukul 13.30 setelah perut terisi, mood pun bahagia, gw kembali duduk manis di ruang tunggu tempat pengambilan paspor. Hingga pukul 14.30, nama gw baru dipanggil dan apa mau dikata sodara2..

E-paspor gw belum jadi..

“Datang setelah 3 hari kerja lagi ya.. belum naik cetak.”

Gw langsung menanyakan ke petugas teller yang adalah seorang ibu paruh baya muka datar tidak ramah,

“3 hari berarti besok, lalu libur natal, cuti bersama, senin, selasa. Saya selasa ya ibu ke sini lagi.” Ucap gw dengan tegas.

“Saya kan juga kerja di pelayanan Bu ga bisa izin terus menerus. Tolong ya Ibu, saya datang hari selasa udah jadi kan paspornya? Saya minta no telpon sini deh ya.”

“Iya kita usahakan..” (dengan muka yang selalu datar) mungkin itu udah default-nya dia tiap ada yang nanya jawabannya begono. Si ibu pun meminta no telp gw dan bilang akan menelpon gw kalau paspor gw sudah jadi.

“Tapi untuk amannya sebelum ke sini, telpon aja dulu, nih nomornya” kata si ibu.

Sambil gw catat no telponnya, gw bergumam dalam hati, “Ini mah sama aje kali gw yang nelpon. PHP deh pake minta no telpon gw segala.”

Kembali dengan tangan hampa, hati hampa, gw balik ke kantor.

Melihat kejadian ini, teman gw yang dijadwalkan datang besok untuk mengambil paspor jadi ragu, jangan2 paspor dia belum jadi juga kan. Secara alasannya belum naik cetak. Saat itu kita berpikir, oh mungkin imigrasi menunggu jumlah pemohon e-paspornya mencapai kuota, baru naik cetak. Sangat positif pikiran kita sodara2.. kita memang manusia yang sangat positif..

29 Desember 2014

Teman gw yang dijadwalkan datang pada hari Rabu minggu lalu, mencoba untuk menanyakan nasib e-paspornya yang jika pakai logika manusia pada umumnya (tidak perlu jenius), seharusnya sudah jadi karena sudah lebih dari 3 hari kerja loh.

Sebelum kesana, gw sudah menghabiskan waktu luang gw (jeda antar layanan) untuk menelpon no kantor imigrasi beserta extension yang diberikan si ibu teller muka datar tidak ramah itu. Hingga jam istirahat pukul 12.00, masi saja nomor telpon itu tidak diangkat2 dan ujungnya masuk ke fax.

Ga percaya? Nih no telponnya. 021-8503896 ext.1 Coba aja telpon! Pasti ga diangkat-angkat.

Teman gw yang mulai gusar, penasaran dan berangkatlah ke sana seusai jam istirahat.

Sepulang dari sana, harapan itu ternyata sirna. Teman gw menceritakan bahwa e-paspor dia juga belum jadi dengan alasan yang terdengar ngasal seperti e-paspor emang lebih susah (apanye Bu??). Teman gw yang ga puas dengan jawaban ngeles si ibu teller muka datar tidak ramah itu pun meminta untuk bertemu dengan customer service untuk melakukan pengaduan. Setelah ngadu, sedikit kesel, dan sedikit curhat sama petugas costumer service yang sepertinya seumuran dengan gw dan temen gw, teman gw memaksa untuk meminta no telpon pribadinya. Bukan bermaksud untuk kenalan, ngajak jalan, apalagi meneror, kita cuman ga mau aja di PHP-in dengan no telpon kantor yang dari semenjak pagi, gw dan teman gw hubungi ga ada yang angkat. Teman gw bilang, si petugas customer service yang sebaya kita ini akan menelpon kita besok untuk mengabari paspor dia sudah jadi atau belum.

30 Desember 2014

Semenjak pagi teman gw sudah mencoba menghubungi si petugas customer service tapi masuk ke mailbox terus. Hingga akhirnya terjadi suatu kejaiban, menjelang siang terdengar dering yang nyaring sekali yang sangat membahagiakan.

Yup akhirnya ada telpon dari sang customer service. Dengan suara yang tidak jelas seperti sedang berada di sebuah pulau terisolir yang tidak ada sinyal, dia menyampaikan kabar bahagia bahwa paspor teman gw sudah jadi. Sayangnya ketika ingin menanyakan nasib paspor gw, hubungan terputus dan ketika berusaha menghubungi dia, kembali hanya mailbox yang bersuara.

Dengan logika manusia pada umumnya (tidak perlu jenius), kita dapat menyimpulkan jika paspor teman gw saja yang diurus 1 hari sesudah jadwal gw sudah jadi, maka paspor gw tentunya harusnya sudah jadi kan?! Dari awal kan kita selalu berpikir positif, ketika naik cetak, maka semua e-paspor harusnya bisa selesai.

Dengan muka berseri2 , datanglah gw dan teman gw ke imigrasi setelah jam isitirahat. Dan untuk kesekian kalinya gw minta izin ke kantor *astagfurullahalazim*.

Setelah menaruh bukti pembayaran BNI dengan urutan nama gw terlebih dahulu, kita lalu duduk manis menanti panggilan. Sebenarnya gw sempat merasa ga yakin sih karena memang keberadaan e-paspor gw belum terkonfirmasi layaknya temen gw. Deg2an juga nih. Yang terburuk adalah kalo e-paspor gw belum jadi. Gw akan sangat kesal sekali.

Sekitar pukul 14.00 nama teman gw dipanggil, dan taraaa.. jadilah e-paspor dia… Bungkus cyiin!!

Dengan masih berpikir positif, kita menantikan saat yang paling mendebarkan ketika nama gw dipanggil. Tapi koq sudah hampir 15 menit, nama gw belum terdengar juga. Padahal sesudah teman gw sudah banyak nama2 yang dipanggil. Majulah gw ke teller untuk menanyakan.

“Bu, nama saya koq belum dipanggil, tadi temen saya udah loh, padahal kan urutannya saya dulu.”

“Iya mbak, namanya siapa? coba kita cek.”

Ga berapa lama, nama gw dipanggil

“Mbak, maaf ini belum ada paspornya, belum jadi.”

“BELUM JADI GIMANA BU?? SAYA UDAH DATENG MINGGU LALU SESUAI YANG DIMINTA. KATANYA BELUM JADI, DISURUH DATANG LAGI SEKARANG BELUM JADI JUGA?? GIMANA SI IBU. TEMEN SAYA YANG BIKINNYA 1 HARI SETELAH SAYA KOQ MALAH UDAH JADI. PUNYA SAYA BELUM…”

“SAYA SUDAH BOLAK-BALIK TAPI BELUM JADI JUGA. SAYA KAN JUGA KERJA IBU. SAYA JUGA KERJA DI BAGIAN PELAYANAN IBU. KASIAN PASIEN2 SAYA. DIMANA INI PROFESIONALISME ANDA??”

“YA MBAK KAN MAKANYA MBAK TAU SAMA2 DI PELAYANAN KITA JUGA KALO KE RT APA RW KAN GA SEKALI DATENG  JUGA.”

“LOH SAYA YA GA BISA KALO TERUS BOLAK BALIK BEGINI, IZIN TERUS, KASIAN PASIEN2 SAYA JADI TERLANTAR.”

     “YAH INI KAN URUSAN PRIBADI MBAK.”

“YA SAYA TAU INI URUSAN PRIBADI SAYA. SAYA SUDAH IZIN UNTUK PENGURUSAN INI SESUAI KETETAPAN HARI YANG TERTERA. TAPI KALO SAYA DISURUH BOLAK BALIK SEPERTI INI KAN BUKAN SALAH SAYA. KALO SESUAI ATURAN YA PASPOR SAYA SUDAH JADI DARI KEMAREN, BUKAN SAYA YANG MENANGGUNG AKIBATNYA. INI KAN BUKAN SALAH SAYA PASPOR BELUM JADI. INI KAN KESALAHAN DI ANDA KENAPA PASPOR SAYA BISA GA JADI2!!!! BUKAN SAYA!!!”

Tentunya mata gw membelalak menuju ke arah ibu teller muka datar tidak ramah itu.

Karena ruang tunggu yang makin siang makin sepi kayak kuburan, emosi jiwa gw menciptakan suatu keramaian tersendiri hingga suasana sekitar seakan-akan hening dan petugas2 lain yang berada di balik teller menatap gw penuh tanya. Dan tentunya orang2 yang masi berada di ruang tunggu juga membisu. Mungkin mereka bingung, ada apa ini?

Lalu ada seorang petugas kepo di belakang teller ada yang mendekat dan bertanya,” kenapa ini kenapa ini? Si ibu muka datar tidak ramah bilang kepada sang kepoers, “ini mbak ini udah bolak-balik dari minggu lalu paspornya belum jadi juga.” Sambil mendengarkan dialog mereka berdua, dapat dipastikan saat itu hidung gw sedang kembang kempis akibat ngos2an habis ngomel .

Ngomel itu capek loh bok..

Lalu si petugas pria kepoers dengan muka yang lebih ramah, meminta gw untuk menunggu, duduk dulu. “Sebentar ya mbak coba kita periksa lagi namanya.” Duduk lah gw kembali ke tempat tunggu semula di samping teman gw yang agak syok melihat gw yang biasanya adem ayem saja tapi begitulah saat itu.

Sambil mengatur nafas dan menenangkan diri, terdengar suara heboh di balik teller seperti suara orang naik tangga, dan ada yang berteriak2 nama gw dengan di eja per huruf H.A.P.P.I.L.I.O.N.A.I.R.E. Gw dan teman gw bertatapan sambil menggelengkan kepala. Sambil menunggu, gw dan teman yang semenjak jam istirahat memang sudah ‘nongkrong’ di situ, mulai menyadari ‘anomali’ di sekeliling kita.

Orang2 di sekeliling kita tidak lain tidak bukan sepertinya adalah calo. Dari gelagatnya yang bolak balik meng-escort orang, mengambil paspor hingga 5 buah sekaligus, saling kenal satu sama lain, dan stay disini mulai jam 14.00 ke atas. Bahkan ada satu dialog antara seorang ibu2 ber-nametag dengan seorang bapak rapi membawa tas kerja yang membuat gw dan teman gw sungguh tercengang.

Si ibu bilang gini, “ya udah pak gapapa di sini aja gada cctv.”

Lalu mereka berdua menunduk dengan muka menghadap ke bawah di balik senderan kursi tunggu di depan mereka, sementara si ibu membuka tasnya lebar2.

“Sepertinya telah terjadi transaksi”, kata temen gw. “Wah sayang bgt tadi ga kita rekam”, kata gw.

Ya meneketehe kali orang2 ‘lurus’ macam kita kalau mau ada transaksi begituan di depan mata kepala sendiri. Demi Allah!

Habis itu kita jadi iseng, sembari menunggu, teman gw mengeluarkan hp dan mengambil gambar mereka diam2. Tapi memang “gold moment” nya sudah berlalu. Dari hasil rekaman kita, gada dialog yang seseru tadi dan hanya menampilkan muka2 orang menyedihkan seperti mereka.

Hampir jam 15.00, nama gw dipanggil.

ALHAMDULILLAH!! E-paspor gw TIBA2 JADI… JADI!!!

Tetap dengan settingan muka antagonis ke ibu teller gw berucap TERIMA KASIH, SELAMAT SIANG!

Sebelum kembali ke kantor, sesaat gw tunjukan e-paspor ke teman gw. Dan betapa kagetnya kita bahwa lembaran plastik halaman pertama paspor masi panas dan sedikit berkerut seperti baru keluar dari suatu mesin pencetak.

Lalu teman gw berucap, “ini bener2 baru dicetak deh kayaknya abis lu ngomel tadi.”

Indonesia, Indonesia… Buat apa dipermudah kalau bisa dipersulit..

FYI teman2, gw dan teman ke sana di saat hari kerja jadi kita menggunakan seragam pemprov DKI. Bayangkan orang berseragam seperti gw aja bisa begitu, gimana orang yang ga pake seragam. Dan kita benar2 mengikuti segala prosedur yang seharusnya, yang tertera di persyaratan dan tata cara tanpa jalan pintas sedikitpun. Kita lurus loh jalannya, tapi dibelokin tuh sama orang2 menyedihkan itu.

Pikirlah sendiri.

Memang bagusnya ya teman2 kalau ga mau mendadak penyakitan, tekanan darah naik gara2 emosi jiwa menghadapi mereka. Lebih baik ga usah deh urus e-paspor di Imigrasi Jaktim. Gw dan teman gw sampai berjanji, Insya Allah kalau diberi umur panjang 5 tahun lagi kita ga mau perpanjang paspor di Imigrasi Jaktim, lebih baik di Imigrasi lain saja yang tidak menyengsarakan.

Iklan

2 pemikiran pada “WARNING: Jangan Pernah Sekalipun Membuat E-paspor di Imigrasi Jakarta Timur, atau Anda akan kena Darah Tinggi!

  1. sy lagi proses pembuatan e-paspor di kanim jakarta pusat daerah kemayoran sejak 02 november 2016, sampai sekarang belum jadi. sudah lebih dari 3 hari kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s