Pertama Kali Keluar Negri: Malu-maluin, Kagum, Tapi Lebih Cinta Indonesia!

Hal yang paling berkesan dan paling norak dalam hidup gw adalah waktu gw pertama kali keluar negri. Dari mulai urus paspor aja, gw girangnya minta ampun. Padahal ya cuma ke Malaysia.

Setelah rempong urusan teknis, akhirnya sampai juga gw di Malaysia di suatu pagi menjelang siang. Dan hari itu panas minta ampun! Sama aja ternyata kayak Jakarta. Ya iyalah.. sama-sama negara tropis getoh.. Gw mendarat di Terminal LCC di Sepang, Malaysia yang merupakan basecamp AirAsia. Emang dasar terminal low cost carrier, turun dari pesawatpun ga pake garbarata, alias jalan kaki di bawah terik matahari dan jaraknya pun jauh ke gedung bandara. Pas udah dekat, baru ada kanopinya beserta deretan rak payung, mungkin untuk yang ga tahan panas atau kalau hujan. Untung ga hujan!

Setelah lumayan gempor berjalan kaki, masuklah gw ke bagian imigrasi bandara. Sebenernya dari semenjak turun, gw udah ketawa-ketiwi baca tulisan pengumuman di kiri kanan yang berbahasa Malaysia. Yang paling gw inget adalah tulisan Bulan Juli. Mereka benar-benar langsung menuliskannya sesuai penyebutan dalam bahasa Inggris, dan hasilnya adalah “Julai”. Wkwkwk..

Di bagian imigrasi, gw sempet tengsin abis gara-gara gw protes kenapa kartu imigrasi gw diambil. Terus si mbak imigrasinya udah bete gitu nerangin *ini mah kartu kedatangan, emang gw ambil kalee.. Gubrak! (*aslinya sih lbh jutek)

Maklum pertama kali keluar negri, gw kritis bgt. Ternyata kartu kedatangan emang di ambil sama petugas imigrasi pas sampai, dan nanti kartu keberangkatan diambil lagi pas pulang atau pergi keluar negara tsb.

Selesai urusan, dijemputlah gw sama mobil travel, judulnya “Bas Persiaran”, padahal sih bukan bis, lebih mirip mobil travel Jakarta-Bandung.

Menuju Kuala Lumpur cukup memakan waktu karena bandaranya ga di tengah kota. Mirip Soetta lah, tapi ga seluar kota Soetta sih. Pemandangan di tol cukup gersang dengan beberapa perumahan yang sampe ke pinggir tol (keliatan rumah2nya) dan pepohonan yang ga serindang tol Bekasi dan sepi kendaraan.

Gw sudah ga sabar pengen lihat Twin Tower, dan sepanjang jalan gw berisik bgt sama spupu gw bertanya-tanya di manakah Twin Tower berada?? Setelah 1 jam melewati tol, masuklah gw ke tol dalam kota, ibaratnya tol Gatot Subroto lah kalo di Jakarta. Lagi2 pemandangannya sepi dan gedung2 sederhana dengan warna kusam (serius). Gimana ga kusam, ada stadion olahraga warnanya hijau turquoise gelap, dan beberapa gedung biru muda gelap, dan gedung2 lain berwarna tanah. Yah walaupun ga penting, bagi gw yang lagi jadi turis ya, kurang menarik aja sih jadinya!

Mendekati pintu keluar tol, mulai terlihat apa yang gw cari2. Yes, The Twin Tower! Wah gw seneng bgt akhirnya bisa liat icon-nya Malaysia. Gedung itu memang paling tinggi di antara gedung2 di sampingnya. Dan menurut gw juga paling modern sih. Habis yang lain bangunannya mirip2 seperti Hotel Indonesia waktu belum direnovasi jadi Hotel Indonesia Kempinski. 😦 Jadi ya menurut gw yang paling keren ya Twin Tower itu. 🙂

Hari pertama, gw dan rombongan langsung jalan-jalan ke Istana Negara, Lapangan Merdeka, Little India, KLCC The Twin Tower, Beryl’s Chocolate Shop dan yang terakhir dan paling berkesan Batu Caves. Well, KLCC itu ternyata mall yang nyambung sama convention centre dan mungkin perkantoran. Sayangnya waktu itu gw ga bisa naik ke atas menuju jembatan antartower itu. Ya sudah lah, ibaratnya lg ngemall di jakarta aja, kurang lebih sama tapi di halaman belakangnya ada taman luas untuk nongkrong.

Nah yang paling gw suka adalah Batu Caves, gua yang dijadikan kuil suci tempat berdoa bagi orang Malaysia keturunan India dan bahkan bagi orang India asli yang datang kesana. Terletak di wilayah Selangor. Jadi tempat ini sebenernya di luar KL.

Di Batu Caves terdapat ratusan mungkin ribuan patung dewa-dewi Hindu yang very very fantastis warna-warninya dan mistis. Gw benar2 merasa bahagia bgt waktu kesini. This place was so amazing! Baru masuk ke parkiran aja sudah kelihatan patung Hanoman segede alaihim, dan patung dewa Lord Murugan yang setinggi Monas mungkin. Untuk masuk ke kuil, kita harus menaiki ratusan anak tangga yang terjal dan curam. Di pintu masuk ada gapura berisi ratusan patung dewa warna-warni yang keren bgt. Tapi bener-bener dibutuhkan keberanian dan kekuatan fisik untuk mencapai puncaknya. Apalagi dengan pegangan beton yang selebar-lebar buku kedokteran, serasa lagi uji nyali deh.. Jangan melihat ke bawah kalau bisa, karena Demi Allah itu seram bgt. Dan yang bikin tambah grogi adalah, ada beberapa monyet yang bertebaran di tangga. Nyebelin bgt kan!?

Tapi gw udah niat bgt untuk sampai di Puncak, karena gw excited bisa sampai di sini yang bagus ini. Masa sudah jauh2 ke sini, keluar negri, gw ga liat dalemnya kayak apa.

Waktu sampai atas, gw sumringah bgt disambut patung dewa wisnu dan siwa yang bergaya India warna-warni. Masuk ke dalam gua, kita bisa lihat gua yang gueedee, luas, dan langit-langitnya juga tinggi banget. Ada beberapa patung dewa, kuil kecil, dan satu ruangan yang di dalamnya sedang diadakan upacara suci. Jadi seru juga berfoto-foto di dalam gua sambil menonton prosesi upacara tsb.

Pokoqnya kalau ke Malaysia jangan lupa ke Batu Caves ya! 🙂

Malamnya, gw dan keluarga jalan-jalan ke Hardrock Cafe dan mampir juga ke P.Ramli Street, tempat cafe2 dan club bertebaran. Lucunya pas mau masuk, eh ternyata ada larangan untuk orang yang berjilbab. Lah tante gw kan pake jilbab, ga jadi deh nongkrong di P.Ramli. Hehe..

Selain tempat2 tadi, buat yang hobi shopping mampir deh ke Sungei Wang di daerah Bukit Bintang. Semacam ITC gitu lah tapi lebih kecil, teratur, dan sepi (dibandingin sama ITC loh ya). Di Sungei Wang, turis Indonesia biasanya pada rusuh belanja sepatu di Vincci. Gw aja tau, gara-gara pas tokonya buka langsung diserbu ibu-ibu bergaya exist yang teriak-teriak ngomong bahasa Indonesia rebutan milih sepatu. Tapi beneran murah koq sepatunya, pantesan aja pada beli grosiran. Gw yakin tuh buat dijual lagi di Jakarta. Eaaaa!

Selain Sungei Wang, di Bukit Bintang ada beberapa mall juga yang OK buat jalan2, atau coba naik monorail di stasiun terdekat. Berhubung hotel gw dekat, gw ga perlu naik monorail, cukup berjalan kaki ke daerah Bukit Bintang. Dan kalau mau wiskul jalan alor pusatnya..

Sayangnya KL itu seperti negara Asia Tenggara lainnya yang cuacanya unpredictable. Gw  dan sepupu-sepupu gw sempat mengalami peristiwa kurang menyenangkan. Kita kehujanan ketika sedang asyik berbelanja. Bagaikan gembel, kita melipir di tangga pinggiran toko elektronik karena hujannnya deras bgt. Mau pulang ke hotel males hujan-hujanan, kalau naik taxi terlalu dekat, sayang uangnya, ya sudah kita memilih untuk menunggu hujan reda. Dan ternyata hujan tak kunjung reda sedangkan hari mulai gelap. Tanpa telpon yang bisa dihubungi, keluarga pasti sudah cemas menunggu kita di hotel. Akhirnya hujan-hujanan lah gw dan spupu lari tunggang langgang menuju hotel dengan tentengan kiri dan kanan.

Dengan inisiatif, kita jadikan kantong belanjaan yang rata2 dari kertas sebagai penutup kepala ala kadarnya. Ketika sudah dekat hotel, kita hanya perlu menyebrang satu kali lagi jalan raya, tapi entah kenapa, saking basahnya atau apa, kantong belanja yang gw jadikan penutup kepala, jebol di tengah jalan dan isinya jatoh. Jreng! Ya udah tetap dalam kondisi hujan-hujanan gw tenteng lah itu isi belanjaan gw yg berhamburan. Malu2in! Yah begitulah pengalaman pertama gw keluar negri. Malu2in. ;p

Secara umum, pandangan gw tentang Kuala Lumpur sih biasa aja. Apalagi gw sudah berekspektasi berlebihan mengingat ini di luar negri. Hehe.. Tapi gw salut sama tingkat kebersihannya. Banyak trotoar di area Bukit Bintang dan food court pinggir jalan di Jalan Alor, bersih dan tidak kumuh. Udaranya juga bersih, bahkan saking bersihnya sampe ada banyak burung gagak (kayaknya) yang hinggap di kabel telpon/listrik sepanjang pedestrian area tsb. Jalan-jalan protokol dan kecilnya juga rapi, gada lubang kayak di Jakarta, apalagi genangan air. Sarana umumnya juga OK. Mau naik monorail aja, ada eskalator khusus dan tidak rusak alias berfungsi normal.

Cuman last but not least yang bikin sedih adalah buanyak bgt TKI bertebaran di penjuru kota. Aduh, emang bener ya di Indonesia sudah gada lapangan pekerjaan lagi sampai harus mencari di Malaysia??? Ya gw sedih aja, gw datang ke malaysia sebagai turis yang jalan-jalan, belanja, foto-foto. Tapi TKI di sana kebanyakan jadi tukang sapu, tukang cuci piring. Terenyuh bgt gw (bahasa gw ngarang). Pantesan aja orang2 malaysia itu (mungkin ga smua) agak underestimate orang Indonesia. Dan gw sempet merasakan itu. Well gw ga mau ungkit lagi, lebih baik kita yang berkaca supaya tidak diunderestimate sama orang Malaysia. 🙂

Iklan

5 pemikiran pada “Pertama Kali Keluar Negri: Malu-maluin, Kagum, Tapi Lebih Cinta Indonesia!

  1. hehe.. mantep… sama spt saya juga, ketika menginjakkan kaki di negeri malayu ini.. terasa sama spt di Indonesia gada bedanya… hanya sebagian kecil saja yang terlihat unggul dari Indonesia. seperti pengunaan kartu untuk kereta expres, jadi ga repot bayar2 lagi di loketi.. tinggal di scan kartunya dah tinggal naik kereta ke tempat yg ingin dituju..
    ada juga kisah lucu saya ketika berada di Malaysia, ada tulisan dari salah satu iklan layanan pulsa seluler.. tulisannya sangat mebuat saya geli.. yaitu.. “SMS Percuma dengan card XXX..” heheh.. mungkin maksudnya SMS gratis.. hehehe.. ^^

  2. Saya selalu ke Indonesia. Semua kota besarnya sudah saya lawati. Saya bawa berita yang bagus bagus dari Indonesia ke Malaysia kerana saya cinta perdamaian dan saya tidak sombong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s