“Breathtaking Moment” di Bali

Sebagai salah satu destinasi wisata yang paling hits di Indonesia, bisa dibilang Bali itu gada matinya. Dari mulai pemandangan alam yang cantik, kesenian budaya yang mendarah daging, aktivitas outdoor yang seru2, resto dan club yang merajalela, sampe suvenirnya yg unik dan murah meriah. Rasanya pengen dan pengen lagi ke Bali, gada bosennya. Kayaknya menghirup udara di sana aja tuh, udah langsung ngerasa lagi liburan. Entah suasananya atau apa, gw selalu ngerasa santai kalo kesana. Gw ga kebayang untuk orang asli sana yang memang tinggal atau bekerja di Bali. Mereka bisa konsen ga ya sama pekerjaan mereka. Karena buat gw, setelah menginjakan kaki di sana tuh langsung terasa hawa liburan. Haha..

Pengalaman terakhir kesana, gw gembira bgt karena gw berhasil melaksanakan apa yang dari dulu gw rencanakan. Mungkin terdengar lebay, tapi memang baru kali ini kesempatan itu datang. Gw sudah beberapa kali mengunjungi Pura Uluwatu di selatan Bali, dan pemandangannya bagus sekali. Apalagi tanpa monyet2 itu, mungkin gw bisa lebih tenang dan menikmati pemandangannya lebih santai. Maklum, disana memang berkeliaran monyet2 yang menurut gw cukup agresif. Soalnya sendal jepit gw sempet mau diambil cuy. Untungnya gw bersikeras mempertahankan sendal gw. Akhirnya tarik2an sendal deh tuh gw sama monyet sampe jadi bahan tontonan orang2.

Anyway, bukan tarik2an sendal yang bikin gw gembira bgt ke Bali kali ini. Tapi karena gw akhirnya menyaksikan langsung tari kecak ketika matahari terbenam di Uluwatu. Gw udah sering bgt liat foto2 jepretan orang di blog2 atau lihat di agen2 wisata. Tapi waktu nonton langsung, It’s amazing!! Very very recommended..! Buat siapa pun yang kesana, please jangan sampe lo ga nonton tari kecak pas sunset ini. Skrg udah byk koq agen wisata yang menyediakan voucher tiket secara online. Karena kalo beli langsung di venue, takut ga kebagian saking banyak peminatnya.

Pertunjukan kecak ini dimulai jam 6 sore WITA. Hari sudah mulai gelap, tapi matahari memang belum tenggelam, langit sudah kekuningan. Berbekal tiket yang sudah diprint, jam 6 kurang 20 menit gw udah wara wiri ke venue. Soalnya dari jauh, udah keliatan tempat duduk mulai penuh terisi. Untungnya gw masi dapat seat di dudukan ala colosseum itu. Sudah hampir jam 6 sore, penonton yang masuk ke venue gada habisnya, padahal seat sudah penuh. Memang dasar orang Indonesia ga mau rugi, itu orang kayak air aja, masuk terus ke venue sampe pada duduk lesehan di arena pertunjukan. Dan lebih jleb lagi, tiba2 panitia menambah kursi plastik ala kondangan di rumah, berderet di sekitar bangunan pura yang sebenarnya merupakan entrance penari. Bener2 deh ini, udah kayak pasar. Tapi pasar internasional, karena orang2nya dari berbagai bangsa. Gw sempet ngerasa wow juga sih, karena merasa menjadi bagian dari warga dunia. Halah! 😀

Akhirnya setelah kursi kondangan penuh, gada lagi tamu yang masuk, api dinyalakan. Langit pun makin gelap. Penari memasuki arena, dan untungnya gw tidak kehilangan momen matahari temggelam. Gw sudah sering melihat fenomena matahari tenggelam, secara tinggal di Indonesia. Tapi baru kali ini gw melihat matahari yang bulat, berangsur2 berkurang kebulatannya menghilang di balik awan, sedikit demi sedikit, sampe tinggal garis aja (mataharinya lenyap). Gw sampe ga konsen liat tarian kecak di awal2 saking terkesima sama sunset of the day ini. Baru liat itu aja, gw udah ngerasa romantis bgt. Padahal gw ga lagi sama pasangan. Wkwkwk..

Dalam tarian kecak ini diceritakan kisah Rama-Shinta, yang dibagi menjadi beberapa babak. Dimulai dari pertama mereka bertemu, Shinta diculik Rahwana, kemudian Rama mencari Shinta dibantu Hanoman, hingga adegan terakhirnya, Hanoman dibakar karena dianggap sebagai pengacau oleh Rahwana. Semua itu ga usah dihafal, karena ada kertas contekannya yang dibagikan ketika masuk ke arena.

Sepanjang cerita dan tarian berjalan, matahari memang sudah tenggelam, tapi justru saat inilah sensasi romantis makin menjadi2. Langit yang kuning terang, berangsur2 gelap sambil menunjukan gradasi orange kemerahan. Dan lagi2, It’s amazing!! Belum lagi ditambah suara2 penari kecak yang bergantian menyanyi kecak, benar2 menambah suasana menjadi hikmat dan mistis.

Hari makin gelap, lampu arena dinyalakan, sehingga kita masi bisa melihat posisi kita dan menonton pertunjukan, jadi ga gelap gulita. Adegan demi adegan dipertunjukan oleh penari2 yang luwes dan full make-up ala penari Bali pada umumnya. Hanya satu kata yang bisa gw gambarkan saat itu, INDAH!

Setiap selesai satu cerita atau babak, penonton riuh tepuk tangan. Ya iyalah, keren bgt gitu loh.. Dan blitz dari berbagai kamera tiada henti mengabadikan peristiwa indah itu. Gw aja sampe susah dapet foto yang bagus, karena selalu kedapatan blitz orang lain yang menyilaukan.

Nah waktu cerita sudah mau selesai, tiba2 lampu arena dimatikan semua. Bikin deg2an aja! Soalnya langsung gelap gulita, kecuali penerangan dari api di tengah2 arena. Ternyata itu sengaja dilakukan dan api di tengah arena pun di tambah hingga bagaikan kobaran api unggun di tengah2 camping pramuka.

Ternyata ini dia bagian cerita yang paling bikin deg2an. Hanoman yang dituduh mengganggu ketentraman Alengka, diperintahkan untuk dibakar di tengah kota oleh Rahwana. Dan gw pikir itu tulisan aja, ternyatan beneran dibakar itu hanoman. Iya! Si penari hanomannya yang aslinya orang, dibakar hidup2. Bak nonton debus, gw dan smua penonton teriak panik. Ya iyalah, kita ga ada yang mau kali, liburan kita berkesan gara2 liat orang kebakar hidup2. Masalahnya itu beneran api, gw aja yang duduk di baris ke 3 dari bawah terasa bgt hawa panasnya. Padahal kan itu jauh..

Untungnya si Hanoman ga knapa2. Seperti benar2 dirasuki roh hanoman, si penari hanoman langsung jingkrak2 keluar dari api dan seperti monyet pada umumnya, loncat2 dari satu titik ke titik berikutnya sambil ketawa2. Owalah.. bikin parno aja, tapi keren! Gw baru inget, sebelum adegan tadi, ada pendeta yang nyiprat2in air ke hanoman. Mungkin itu rahasia anti bakarnya dia.. Wkwkwk..

Setelah adegan dramatis itu, lampu arena dinyalakan lagi, dan pertunjukan dilanjutkan dengan babak terakhir hingga selesai. Dan lebih oknya lagi, setelah pertunjukan selesai, penonton diperbolehkan untuk foto bareng penari2 tadi. Cieee, ada meet and greetnya cuy! Pas smua penari ngasi hormat, smua penonton langsung nyerbu hanoman! Secara dia star of the day ya.. Untungnya gw jg berhasil sikut2an sm turis India yang rusuh bgt dan berhasil foto sama hanoman. Hehehe..

Iklan

Satu pemikiran pada ““Breathtaking Moment” di Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s