Sinetron Abis!

Jalan-jalan keliling pulau itu memang asyik. Apalagi pulaunya itu memang indah dan tersohor. Sebut saja namanya Gili Trawangan. Pasti pada tau donk! Salah satu dari 3 Gili di Lombok Utara yang lagi beken karena para backpacker dari Eropa merasa ini dia surga baru yang masi sepi.

Gw senang bgt waktu sampe sana. Cuma modal 10rb naik kapal dari pelabuhan bangsal, ga sampe sejam udah sampe di gili yang lautnya biru terang, plus pasir putih seperti tepung,  gada kendaraan bermotor, dan “sepi”. Sepi yang gw maksud adalah sepi dari turis lokal, alias isinya bule smua. Yang lebih menakjubkan lagi adalah ketika turun dr kapal langsung disambut oleh jejeran bule topless yg lagi asyik berjemur. Very very natural!

Hal seru yang bisa kita lakukan di Gili antara lain snorkeling, diving, trekking pakai sepeda, atau keliling pakai Cidomo. Dan yang pasti ya berjemur sperti para bule2 itu. Tapi ya mengingat gw sudah cukup eksotis, jadi ya buat apa berjemur ria lagi. So, setelah snorkeling dari pagi, siangnya gw putuskan untuk segera trekking berdua dengan teman gw Rica, mengingat gw hanya seharian di sini, dan sore harus udah caps ke Mataram.

Guide serta pemilik rental sepeda bilang: “Keliling aja kak! Nanti ketemu titik ini lagi. Kan pulaunya bulat, kalo dikelilingi pasti ketemu sini lagi.”

Sip lah! Kata gw dan Rica, yang udh ga sabar sok sok an lintas alam.

Pertama2, asyik bgt trekking ngelewatin banyak dive shop, cafe2, orang2 yg lalu lalang which is bule smua, beberapa biker lainnya yang cepet2 bgt ngayuh sepedanya, cidomo yg lewat bolak-balik bawa penumpang. Pokoqnya gw ngerasa “sesuatu” deh di sini, jalan2 pake sepeda.

Setelah hampir 20 menitan bersepeda, pemandangan riuh dive shop dan cafe2 mulai hilang, berganti pemandangan pantai yang bener2 isinya cuman pohon aja. Alias naked beach yang memang belum terjamah.

Kondisi ini juga didukung oleh jalanan yang makin ajib pasirnya. Jalanan mulai ga rata dengan pasir yang menggumpal, bikin sepedaan jadi berat gila dan sewaktu2 bisa berhenti mendadak karena gundukan pasir.

Tapi keindahan alamnya bikin gw dan Rica terus penasaran, ada apa lagi di depan yang menanti kita. 🙂

Setelah hampir 1 jam bersepeda (perkiraan aja, soalnya rasanya udh pegel dan lama), kita berhenti di sunset point. Di situ ada tempat duduk2 dari kayu yang agak tinggi untuk melihat sunset. Tapi berhubung itu siang bolong, dan jarak tempuh gw sepertinya masih jauh, jadi gw cuman foto2 bentar dan lanjut trekking lagi.

Dari sunset point, kita bersepeda menyusuri pantai2 yang sepi. Ada beberapa hotel dan cafe yang sepi bgt mungkin karena tamunya gada atau memang lagi beraktivitas di sisi pantai yang rame tadi.

Lama2, gw dan Rica merasa kecapean dan haus bgt. Akhirnya di salah satu vila penginapan yang ada satpamnya, kita nanya: “Pak, ini kalo lurus terus, masi jauh ga ke tempat yang ada pelabuhannya? “ Maksud kita ya titik tempat kita nyewa sepeda tadi di pusat keramaian. Si satpam jawab: “Oh ini baru separonya, jadi kalo lurus terus ya sisa separo jalan lagi!”

Gw dan Rica yang bener2 sok adventurous, merasa OK lah kalo separo lagi kita sanggup. Lagian dari awal kita brangkat, guide dan tukang rental speda udh bilang kita bakalan ketemu titik ini lagi (rental speda). Lanjutlah gw dan Rica trekking ala2 pecinta alam.

Setelah bbrp lama, gw ga inget pastinya, pokoqnya rasanya lama bgt, gw berhenti saking ga kuat karena kecapean. Gw bilang sama Rica, Gila ini mah jauh bgt kagak sampe2, plus jalanan pasir yang makin menggila, gw serasa naik tanjakan yang ga abis2.

Sepertinya Rica prihatin melihat konsisi gw, akhirnya kita mutusin utk berhenti dan nanya ke orang sekitar. Akhirnya, di depan ada semacam vila yang lagi direnovasi dan ada bbrp tukang bangunan yang bisa ditanya. Si abang2 tukang bangunan langsung aja bilang “ini mah jauh bgt mbak kalo mau balik kesana, 1/3nya aja belum sampe ini mbak.”

Buset!

Gw dikerjain ini sama satpam??

Trus guide sama rental speda?? Bener emang kalo lurus terus, bisa sampe di tempat tadi. Tapi tahun depan maksud lo??

Fuuihh.. gw capek bgt, campur kesel bgt, campur panik, campur bingung.

Untungnya si tukang bangunan berbaik hati kasitau jalan pintas, yang bisa lewat jalanan di samping vila itu. Dalam hati gw udah berdoa aja smoga ini beneran jalan pintas.

Sampe di tengah antah berantah, ada dua belokan, trus kita udah ngasal aja ambil ke kiri, saking sudah pasrahnya. Dan ternyata kita nyasar, dan masuk ke halaman rumah orang. Jreng!

Si pemilik rumah sadar betul kita nyasar, dan dengan penuh keputusasaan, gw dan Rica memohon kepada si empunya rumah untuk ditunjukan jalan keluar. Untungnya dengan sigap, dia langsung manggil anak perempuannya, yang juga dengan baik hatinya langsung mengeluarkan sepedanya untuk menggiring kita ke jalan yang benar. Namanya Mb Minnie (gatau nulisnya gimana) dia adalah penyelamat kedua setelah si tukang bangunan. Sambil menggiring kita ngelewatin pedesaan yang ternyata byk rumah penduduknya itu, kita ngobrol. Dia sedikit ketawa sepertinya dengan “kenyasaran” kita yang ajib ini. Dia juga cerita kalo dia itu kerja di pelabuhan bangsal, dan disini sedang mengunjungi keluarganya.

Setelah menelusuri jalan2 tanah campur pasir di tengah perumahan dan ladang warga, gw sempat lihat cidomo yang lagi parkir di depan rumah salah satu warga. Sepertinya dia habis nganterin penumpangnya ke rumah itu. Dalam keadaan seperti itu gw rasanya udh pgn naik cidomo aja. “Trus sepedanya dikemanain? Menurut lo Cyiin??”

Bak lomba amazing race, gw berteriak2 sendiri dalam hati, “Ayo kamu pasti bisa!” Secara gw udh kecapean bgt dan pengen pingsan aja rasanya. Sementara Rica dan Mbak Minnie sudah jauh di depan. Tiap kali gw menggenjot sepeda, gw teriak2 dalam hati: “Dikit lagi! Dikit lagi sampe pelabuhan!”

Tiba2 “Duug!” Bunyi apaan tuh? Ga berselang lama dari pandangan cidomo, dan halusinasi gw tentang amazing race, terjadilah tragedi yang memilukan. Rantai sepeda gw putus ajah gitu.. Dan gw seperti orang gila langsung teriak2: “Rantai gw putus! Rantai gw putus!”

Bercampur rasa tidak percaya, gw udh panik dan takut, bagaimana balikin speda ini dan juga jam brapa kita bisa balik ke pelabuhan, karena kurang dari setengah jam lagi kapal terakhir akan brangkat.

Dan di saat genting seperti ini, seperti ada peri yang menghampiri, tiba2 cidomo yang tadi parkir depan rumah warga, lewat di depan kita. Gw langsung inisiatif, manggil dan nanya, bisa ga bawa sepeda ini dan kita?

Si bapak kusir bilang, coba aja dulu naikin spedanya. Dan syukur   Alhamdulilllah, ternyata kedua speda kita muat dan kita nya juga bisa naik, Rica duduk disamping pak kusir. Sementara gw di blakang sambil megang speda dan menjaga keseimbangan. You are my hero pak! Cidomo ini lah penyelamat kita yang terakhir.

Thank God bgt di balik kesusahan pasti ada pertolongan.

Setelah pamit dan mengucap terimakasih banyak ke mb Minnie, kita berdua pamit.

Demi mengejar kapal yang kembali ke Bangsal, kami minta pak kusir supaya ngebut, karena kami harus mampir dulu ke rental sepeda untuk mengembalikan speda, dan siap2 dikomplain karena rantainya putus.

Dalam keadaan terburu2, kita sampai di rental sepeda dan langsung mengembalikan sepeda dan bilang rantainya putus. Si pemilik langsung murka, tapi gw dan Rica yang sudah panik takut ketinggalan kapal, kita pasang muka badak aja, sambil berdalih ga mau disalahin. Akhirnya kita bisa pergi dari situ setelah sedikit membayar lebih atas kerusakan tersebut.

Buru2 kita minta pak kusir utk secepatnya menuju pelabuhan, agar tidak tertinggal kapal. Eh, baru separuh jalan menuju pelabuhan, terjadi lagi drama ala sinetron yaitu tas pakaian basah kita ketinggalan di keranjang sepeda.

Dengan betenya si pak kusir turun dari cidomo utk memutar balikan kudanya. Sampainya di rental sepeda, untungnya barang kita masi ada di keranjang sepeda. Setelah ambil barang, segera lah kita naik cidomo kembali ke arah pelabuhan.

Dalam hal ini, kita benar-benar seperti setrikaan, bolak-balik yang sesungguhnya. Drama itu cukup menjadi tontonan bule2 yang memang sejak awal sudah nongkrong di sepanjang jalan itu. Dan sepertinya mereka sudah mengikuti sinetron ini sejak dari awal kami menggotong sepeda di dalam cidomo.

Gw sudah ga nengok kiri-kanan lagi saking malunya. Yang ada di otak gw saat itu adalah, cepet2 sampai pelabuhan, naik kapal, sampe di Bangsal, lgsg masuk mobil. Hii.. malu abis..

Iklan

2 pemikiran pada “Sinetron Abis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s